Emisi Surat Utang Korporasi Diproyeksi Capai Rp180 Triliun, Ini Alasannya

Indonesia Bond Pricing Agency masih meyakini emisi surat utang korporasi mencakup obligasi, sukuk dan sekuritisasi tahun ini akan melampaui emisi tahun 2017 lalu, meskipun pada awal tahun ini pasar obligasi mengalami tekanan yang cukup kuat akibat sentimen eksternal.
Emanuel B. Caesario | 14 Maret 2018 09:53 WIB
Karyawati berkomunikasi di dekat monitor pergerakan IHSG, di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (5/12). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Indonesia Bond Pricing Agency masih meyakini emisi surat utang korporasi mencakup obligasi, sukuk dan sekuritisasi tahun ini akan melampaui emisi tahun 2017 lalu, meskipun pada awal tahun ini pasar obligasi mengalami tekanan yang cukup kuat akibat sentimen eksternal.

Roby Rushandie, analis IBPA, meyakini bahwa korporasi masih memandang tahun ini sebagai momentum yang cukup tepat untuk mengemisikan surat utang, meskipun sejauh ini imbal hasil sedang dalam tren meningkat.

Dirinya masih percaya emisi obligasi korporasi tahun ini akan berkisar antara Rp150 triliun hingga Rp180 triliun, meningkat dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang mencapai rekor sepanjang sejarah yakni Rp146,1 triliun.

Trennya, emisi surat utang setiap tahun akan mencapai antara 1,5 hingga 2 kali dari nilai surat utang jatuh tempo pada tahun tersebut. Berdasarkan data Pefindo, tahun ini nilai surat utang jatuh tempo yang kemungkinan akan direfinancing mencapai Rp76,6 triliun, lebih rendah dari tahun lalu Rp87,4 triliun. Namun, emisi sektor konstruksi diestimasikan akan lebih agresif tahun ini untuk mengejar target pembangunan infrastruktur pemerintah.

“Mereka tentu butuh dana, entah untuk refinancing atau ekspansi. Kita lihat bank juga iklimnya masih hati-hati untuk salurkan kredit sehingga yang paling rasional bagi korporasi untuk mendapatkan dana adalah dari pasar modal, terutama obligasi,” katanya, Selasa (13/3/2018).

Menurutnya, pelemahan yang terjadi di pasar obligasi Indonesia hanya akan bersifat temporer. Hal yang sama sudah kerap terjadi dan terbukti pasar cepat kembali pulih. Apalagi, tekanan yang terjadi saat ini lebih disebabkan faktor eksternal, sementara di dalam negeri Indonesia memiliki fundamental yang kuat dan mendapat penaikan peringkat surat utang.

Dirinya menilai, imbal hasil sudah tidak akan bergerak terlalu jauh lagi dari levelnya saat ini. Saat ini, imbal hasil surat utang negara tenor 10 tahun sudah berada di level 6,8%, meningkat 48,7 bps ytd.

Peningkatan ini terjadi karena adanya data tenaga kerja Amerika Serikat yang di luar ekspektasi, tetapi pasar sejauh ini sudah mencari titik keseimbangan baru untuk menyesuaikan dengan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Menurutnya, pasar selanjutnya akan cenderung stabil dan tidak naik lebih tinggi lagi.

“Pasar ekspektasinya paling mentok the Fed akan naikkan suku bunga 4 kali karena data tenagakerja itu. Saya kira juga 4 kali pun kemungkinannya tidak terlalu besar. Harga SUN yang sekarang sudah merefleksikan potensi kenaikan 4 kali itu, sudah price in dengan faktor penambah itu,” katanya.

Meskipun meningkat cukup tinggi, dirinya menilai korporasi tentu memiliki perhitungan sendiri untuk menilai tepat tidaknya mengemisikan surat utang tahun ini dengan biaya dana yang meningkat. Bila menimbang potensi pertumbuhan bisnis dan ekonomi tahun ini, keputusan mengemisikan surat utang justru pilihan terbaik.

Tag : Obligasi
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top