Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dolar Menguat, Euro Terpukul Kekhawatiran Inflasi

Mata uang Dolar AS bergerak menguat didorong oleh pernyataan Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell, sementara euro tengah tertekan akibat kekhawatiran inflasi.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 01 Maret 2018  |  14:13 WIB
Uang dolar AS. - Antara
Uang dolar AS. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang Dolar AS bergerak menguat didorong oleh pernyataan Gubernur The Federal Reserve Jerome Powell, sementara euro tengah tertekan akibat kekhawatiran inflasi.

Dilansir dari Bloomberg, dolar menguat pada Kamis (1/3/2018) dengan dibuka di level 90,725. Terpantau pada pukul 11.50 WIB, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama naik 0,089 poin atau 0,10% menjadi 90,702.

Greenback menguat atas dukungan dari pernyataan Powell kemarin lusa yang menoreh nada optimistis pada ekonomi AS dan kenaikan tingkat suku bunga yang kemungkinan bisa saja dilakukan sebanyak empat kali sesuai dengan perkiraan pasar.

Berbeda dengan AS, data inflasi di zona euro memberi harapan bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan memutar kembali rangsangannya, membanting euro ke posisi terendah 5 minggu terhadap dolar dan ke titik nadir 6 bulan terhadap yen.

Euro turun terhadap dolar AS menjadi 1,21835, level terendah sejak 18 Januari. Terhadap yen, mata uang Uni Eropa tersebut turun menjadi 129,86 yen, level terlemah sejak awal September dan turun 5,6% dari level tertinggi satu bulan.

Inflasi zona euro dilaporkan melambat ke level terendah 14 bulan di bulan Februari, menggarisbawahi alasan ECB tetap berhati-hati dalam mengeluarkan stimulus meski pertumbuhan melebihi ekspektasi.

Inflasi di 19 negara Uni Eropa pada periode Februari 2018 melambat menjadi 1,2% dari 1,3% pada Januari, sejalan dengan ekspektasi namun jauh dari target ECB yang sulit dipahami, yaitu hampir 2%.

“Pasar memperkirakan bahwa ECB akan menaikkan suku bunga sejak awal tahun ini, jadi kembalinya skenario perpanjangan lain dalam pembelian obligasi dan dorongan kenaikan suku bunga kembali ke 2019 dapat memberi tekanan pada euro,” kata Makoto Noji, ahli strategi senior di Nikko SMBC dalam laporannya.

Euro juga dilanda ketidakpastian politik saat penduduk Italia bersiap untuk memilih dalam pemilihan umum pada Minggu mendatang, sementara partai politik terkemuka di Jerman memutuskan sebuah kesepakatan koalisi yang akan mengamankan Angela Merkel sebagai kanselir untuk keempat kalinya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as euro 2016

Sumber : Bloomberg

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top