Biayai Proyek Ramah Lingkungan, Royal Lestari Utama Emisi Obligasi

PT Royal Lestari Utama, perusahaan hutan tanaman industri (HTI) karet alam, melakukan emisi obligasi berkelanjutan senilai US$95 juta untuk membiayai operasi perusahaan pada lahan terdegradasi.
Sri Mas Sari | 28 Februari 2018 04:13 WIB
Ilustrasi hutan tanaman industri - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – PT Royal Lestari Utama, perusahaan hutan tanaman industri (HTI) karet alam, melakukan emisi obligasi berkelanjutan senilai US$95 juta untuk membiayai operasi perusahaan pada lahan terdegradasi.

Melalui siaran pers pada Selasa (27/2/2018), manajemen perusahaan itu menyebutkan proyek ini ditujukan untuk pengembangan kerangka pengaman sosial dan lingkungan yang lebih luas.

Areal yang ditanami akan difungsikan sebagai zona penyangga untuk melindungi taman nasional yang terancam dari aksi-aksi perambahan.

Obligasi keberlanjutan ini akan dilakukan melalui beberapa tahapan pembiayaan yang telah disiapkan oleh BNP Paribas (BNPP) dan dikeluarkan oleh TLFF I Pte Ltd.

Royal Lestari Utama (RLU) akan menggunakannya untuk memproduksi karet alam yang ramah iklim dan satwa liar, serta menyertakan aspek-aspek sosial di Jambi dan Kalimantan Timur.

Proyek perusahaan patungan antara Michelin dan Grup Barito Pacific itu melibatkan kolaborasi dengan World Wildlife Fund (WWF.)

Organisasi nirlaba itu sebelumnya bekerja bersama Michelin dan RLU dalam melindungi hutan dengan cadangan karbon tinggi (high carbon stock/HCS) dan nilai karbon tinggi (high carbon balue/HCV) yang masih tersisa di kawasan HTI RLU, serta daerah-daerah konservasi satwa liar dan riparian yang sangat penting.

Dari HTI seluas 88.000 hektare, sekitar 45.000 ha akan dicadangkan untuk mata pencaharian masyarakat setempat dan kegiatan konservasi.

Di Jambi, kedua daerah HTI yang dimiliki oleh RLU dan dua wilayah kerja Restorasi Ekosistem (RE) WWF membentuk sebuah zona penyangga berdampingan yang melindungi Taman Nasional Bukit Tigapuluh, yang merupakan habitat gajah, harimau, dan orang utan.

Tag : barito pacific, hutan tanaman industri
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top