PT Timah (TINS) Bidik Laba Melonjak Hingga Rp1 Triliun

Emiten tambang logam PT Timah Tbk., (TINS) menargetkan laba bersih pada 2018 meningkat signifikan menuju Rp1 triliun dari estimasi tahun lalu sejumlah Rp506 triliun.
Hafiyyan | 22 Februari 2018 21:23 WIB
Aktivitas bisnis inti PT Timah - Antara/Maha Eka Swasta

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten tambang logam PT Timah Tbk., (TINS) menargetkan laba bersih pada 2018 meningkat signifikan menuju Rp1 triliun dari estimasi tahun lalu sejumlah Rp506 triliun.

Sekretaris Perusahaan Timah Amin Haris Sugiarto memaparkan, pada 2018 perusahaan menargetkan laba bersih sebesar Rp1 triliun. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan estimasi pencapaian laba tahun lalu senilai Rp506 miliar.

“Kita targetkan Rp1 triliun pada 2018. Tetapi yang realisasi [laba bersih] 2017 masih harus menunggu selesai audit dan rilis laporan keuangan nantinya,” tuturnya saat dihubungi, Rabu (21/2/2018).

Nilai laba bersih Rp506 miliar pada 2017 tercantum di dalam prognosis laporan keuangan perusahaan yang belum diaudit, melambung dari realisasi 2016 sejumlah Rp251,83 miliar. Per kuartal III/2017, laba bersih TINS melonjak 493,42% year on year (yoy) menjadi Rp300,57 miliar.

Menurut Amin, peningkatan laba bersih perusahaan disebabkan upaya peningkatan penjualan dan efisiensi biaya. Pada 2018, manajemen menargetkan penjualan logam timah dan produk turunannya meningkat 22% yoy dari tahun lalu sekitar 30.000-an ton.

Selain dari produksi sendiri, penjualan timah berasal dari perusahaan mitra sebagai upaya TINS bekerja sama dengan pemain skala kecil di Bangka Belitung. Perusahaan mitra berkontribusi terhadap 40% produksi anak usaha PT Inalum (Persero) itu.

Tahun ini, TINS menargetkan realisasi produksi bijih timah meningkat 13% yoy. Dengan upaya tersebut, pendapatan perusahaan diperkirakan bertumbuh 10%-12% yoy.

Untuk memacu produksi, perusahaan berencana melakukan penambangan di salah satu cadangan di Kepulauan Riau. Saat ini, cadangan timah perseroan mencapai 747.479 ton.

“Salah satu cadangan kami di Kepulauan Riau akan mulai ditambang tahun ini,” tuturnya.

Pendapatan perusahaan juga dapat meningkat dengan menaikkan kontribusi penjualan dari timah kimia dan timah solder. Kedua produk hilir tersebut memiliki harga yang lebih tinggi, sehingga memberikan marjin yang besar.

Dari 1 ton timah olahan dapat diproses menjadi 5 ton timah kimia dengan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang lebih tinggi. Peningkatan penjualan produk hilir ini didukung kerjasama perseroan dengan Yunan Tin Group.

Terkait belanja modal, perusahaan mengalokasikan dana Rp2,6 triliun pada tahun ini atau serupa degan rencana anggaran pada 2017. Mayoritas dana digunakan untuk pengembangan peralatan, dan sisanya dipakai sebagai perawatan mesin, pembukaan tambang baru, dan lain-lain.

Sementara itu, untuk efisiensi biaya, manajemen akan mempertahankan kontribusi penambangan di darat (offshore) sekitar 70% dan penambangan lepas pantai (onshore) 30%. Pasalnya, ongkos tambang offshore lebih rendah.

Pada semester I/2018, perusahaan akan mengimplementasikan bore hole mining (BHM). Metode tersebut diperkirakan dapat mengurangi biaya penambangan sekitar 60%. BHM adalah metode mengekstraksi sumber daya mineral melalui lubang bor dengan air bertekanan tinggi. Pengoperasian penambangan dapat dilakukan dari jarak jauh.

Tag : pt timah tbk, timah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top