Bisnis.com, JAKARTA – Harga batu bara tergelincir ke zona merah pada akhir perdagangan hari Selasa (23/1/2018).
Pada perdagangan Selasa, harga batu bara untuk kontrak April 2018, kontrak teraktif di bursa komoditas Rotterdam, ditutup melemah 0,54% atau 0,50 poin di US$91,75/metrik ton.
Padahal pada perdagangan Senin (22/1), harga batu bara kontrak April 2018 berhasil berakhir menguat 1,15% atau 1,05 poin di level 92,25, setelah berakhir stagnan pada sesi perdagangan sebelumnya.
Dilansir Bloomberg, produksi batu bara China Shenhua, produsen batu bara terbesar di China, naik 1,9% (y-o-y) menjadi 295,4 juta ton pada tahun 2017, sedangkan produksi batu bara komersial pada Desember 2017 naik 3,2% (y-o-y) menjadi 26,1 juta ton.
Berbanding terbalik dengan batu hitam, harga minyak acuan Amerika Serikat (AS) ditutup pada level tertinggi sejak 2014, di tengah ekspektasi penurunan persediaan serta setelah mendapat jaminan dari Rusia dan Arab Saudi terkait kesepakatan pembatasan produksi dunia akan terus berlanjut.
Pada perdagangan Selasa (23/1), harga minyak West Texas Intermediate untuk kontrak pengiriman Maret 2018 ditutup menguat 1,42% atau 0,9 poin di US$64,47 per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Maret berakhir melonjak 0,93 poin di level US$69,96 di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London. Minyak mentah patokan global diperdagangkan US$5,49 lebih mahal dari WTI.
BBL Commodities LP, salah satu hedge fund minyak terbesar di dunia, memperkirakan harga minyak Brent akan naik hingga US$80 tahun ini karena persediaan turun dengan cepat.
Pergerakan harga batu bara kontrak April 2018 di bursa Rotterdam
Tanggal | US$/MT |
23 Januari | 91,75 (-0,54%) |
22 Januari | 92,25 (+1,15%) |
19 Januari | 91,20 (+0%) |
18 Januari | 91,20 (-0,55%) |
17 Januari | 91,70 (-0,65%) |
Sumber: Bloomberg