Saham Perbankan Masih Menarik pada 2018, Ini Alasannya

Saham sektor perbankan masih akan menjadi pilihan investasi menarik tahun depan seiring proyeksi perbaikan kinerja sektor ini serta kinerja perekonomian yang tetap solid di atas 5%.
Emanuel B. Caesario | 19 Desember 2017 09:45 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan IHSG di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/11). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA—Saham sektor perbankan masih akan menjadi pilihan investasi menarik tahun depan seiring proyeksi perbaikan kinerja sektor ini serta kinerja perekonomian yang tetap solid di atas 5%.

Nurulita Harwaningrum, Analis MNC Sekuritas, mengatakan bahwa tahun 2018 akan menjadi tahun perbaikan kembali bagi perbankan.

Hal ini didorong oleh perbaikan kualitas aset dengan pergerakan non performing loan (NPL) yang stabil di level 3% dan peningkatan coverage ratio di level 115% pada 7 bulan 2017 serta kuatnya permodalan yang tercermin pada CAR 23,2% pada 7 bulan 2017. Pemulihan kinerja ini akan mendukung penyaluran kredit.

“Prediksi GDP sebesar 5,3% pada 2018, merupakan sinyal bagi pertumbuhan kredit terutama pada segmen kredit modal kerja dan konsumsi,” ungkapnya dalam Compendium MNC Sekuritas 2018, dikutip Selasa (19/12/2017).

Selain proyeksi kinerja pertumbuhan ekonomi 5,3% tahun depan, katalis lainnya bagi sektor perbankan yakni perbaikan harga minyak dan batubara sehingga kualitas aset membaik. Target pembangunan infrastruktur senilai Rp412 triliun pada 2019 juga menjadi katalis positif.

Selain itu, efisiensi dan penguatan fee based income akan mendorong penguatan bottom line perbankan. Katalis-katalis positif ini mendorong MNC Sekuritas menyematkan rekomendasi overweight terhadap sektor ini.

Menurutnya, dampak penurunan 7-DRR sebesar 50 bps akan terlihat pada kuartal IV/2017 hingga kuartal I/2018, tetapi NIM akan tetap tertekan hingga kuartal I/2018 karena penyaluran kredit di bawah ekspektasi dan likuiditas yang cukup melimpah selama 2017.

Sementara itu, sejumlah risiko yang membayangi sektor ini menurutnya adalah pola konsumsi masyarakat yang lebih selektif serta penyaluran kredit infrastruktur yang lebih beresiko, seperti proyek tol di luar Jawa dan proyek pembangkit listrik.

Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist Manulife Asset Management, mengatakan bahwa peningkatan ekonomi dan pemulihan daya beli masyarakat tahun depan pertama-tama akan berimplikasi langsung pada sektor perbankan.

Katarina mengatakan, daya beli masyarakat berpotensi membaik tahun depan dengan kebijakan subsidi pemerintah yang semakin tinggi serta alokasi belanja modal yang lebih besar. Reformasi pajak Amerika Serikat kemungkinan akan mendorong ekspansi ekonomi Amerika Serikat yang berimplikasi pada peningkatan eksport ke sana.

“Dengan siklus ekonomi yang membaik, sektor yang sangat diuntungkan adalah sektor bank karena dia adalah proksi dari ekonomi. Lalu diuntungkan juga dengan kredit macet yang berkurang, loan growth juga akan meningkat karena dari base rendah saat ini,” ungkapnya.

Tag : analisis saham, emiten bank
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top