Mengintip Prospek Sawit 2018, Perhatikan Saham SSMS & SGRO

Prospek produksi dan konsumsi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) pada tahun 2018 diprediksi meningkat, salah satunya didukung program peremajaan tanaman oleh pemerintah.
Fajar Sidik | 18 Desember 2017 09:25 WIB
Presiden Joko Widodo (kedua kanan) didampingi Menko Perekonomian Darmin Nasution (kanan), Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (kedua kiri) dan Bupati Kabupaten Musi Banyuasin Dodi Reza Alex (kiri) berbincang di tengah perkebunan sawit usai peluncuran penanaman perdana program peremajaan kebun kelapa sawit di Desa Panca Tunggal, Sungai Lilin, Kabupaten Musi banyuasin, Sumatra Selatan, Jumat (13/10). - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA - Prospek produksi dan konsumsi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) pada tahun 2018 diprediksi meningkat, salah satunya didukung program peremajaan tanaman oleh pemerintah.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andy Wibowo Gunawan mengatakan pihaknya mempertahankan posisi Netral untuk sektor minyak sawit mentah. Tahun 2018, produksi CPO global dan konsumsinya diproyeksikan meningkat 7,0% YoY.

"Selain itu, kami yakin program penanaman kembali pemerintah Indonesia menunjukkan landbank terbatas untuk pemain CPO. Risiko kenaikan satu-satunya, menurut kami adalah harga minyak yang lebih tinggi yang akan meningkatkan permintaan biodiesel," jelasnya dalam riset yang diterima Bisnis.com, Senin (18/12)

Andy memaparkan secara historis kondisi cuaca cenderung membaik dalam jangka menengah menyusul peristiwa El Nino dan La Nina. Mengingat cuaca yang diharapkan pada tahun 2018 lebih kondusif, diproyeksikan produksi CPO global mencapai 71,3 juta ton (+ 7,0% YoY), sementara konsumsi CPO global juga harus tumbuh 7,0% YoY menjadi 65,5 juta ton.

"Dengan demikian, kami mempertahankan asumsi harga CPO global 2018 kami di MYR2.950/ton."

Andy juga optimistis dengan program penanaman kembali pemerintah Indonesia merupakan indikasi bahwa petani kecil merasa sulit mendapatkan lahan baru untuk perkebunan kelapa
sawit mereka.

Pemerintah menargetkan penanaman kembali pohon kelapa sawit seluas 4.400 hektare pada akhir tahun; ini mewakili 36,9% dari total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Risiko kenaikan satu-satunya terhadap industri kelapa sawit adalah kenaikan harga minyak dunia, yang kemungkinan akan memicu konsumsi biodiesel yang lebih besar. Biodiesel akan menjadi menarik jika harga minyak mentah Brent di atas US$80,0/barel.

"Kami mempertahankan asumsi harga CPO rata-rata global 2018 per tahun di MYR2.950/ton. Pilihan utama kami di industri kelapa sawit adalah SGRO dan SSMS, karena jumlah lahan baru yang besar sehingga menyediakan ruang untuk tumbuh dalam jangka panjang."

Tag : rekomendasi saham
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top