Tembaga Siap Bearish, Ini 4 Alasannya

Harga tembaga mengalami kemerosotan terbesar dalam dua tahun seiring dengan kondisi pasar yang memburuk. Ke depan, pasar tembaga diprediksi mengalami bearish.
Eva Rianti | 07 Desember 2017 11:57 WIB
Ilustrasi kawat tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga tembaga mengalami kemerosotan terbesar dalam dua tahun seiring dengan kondisi pasar yang memburuk. Ke depan, pasar tembaga diprediksi mengalami bearish.

Harga tembaga tercatat telah merosot pada penutupan perdagangan Selasa (5/12) lalu di level US$6.543 per ton, merupakan penurunan terbesar dalam dua tahun.

Sementara pada perdagangan hari ini (7/12/2017), harga sedikit naik 0,11% menjadi US$6.550 per ton pada pukul 09.30 WIB.

Dilansir Bloomberg, sepanjang tahun harga tembaga tumbuh 18,20%. Meskipun harga mengalami kenaikan yang cukup drastis, namun analis mengatakan bahwa tembaga berada dalam kondisi bearish.

Berikut empat alasan trader perlu berhati-hati terhadap komoditas logam ini untuk ke depan.

Pertama, pasokan yang membengkak. Persediaan tembaga di bursa global tetap tinggi, bahkan setelah terjadinya gangguan berat di negara pemasok tambang di Cile dan Indonesia pada awal tahun ini. Arus masuk yang tinggi ke London Metal Exchange (LME) menjadi katalis negatif pada perdagangan Selasa (5/12) lantaran pasar tidak kekurangan logam, menurut keterangan dari bursa.

Kedua, spread yang lebar. Ke depan, kurva harga menandakan kondisi pasokan yang melar dapat bertahan dalam beberapa bulan mendatang. Benchmark harga tembaga tiga bulan diperdagangkan dengan diskon untuk meneruskan kontrak yang akan berakhir pada tanggal-tanggal berikutnya, sebuah kondisi yang dikenal sebagai contango yang umum terjadi di pasar dengan harga yang terlalu tinggi. Hal itu kontras dengan seng dimana pembeli membayar premi signifikan untuk kontrak di dekatnya di tengah prospek tekanan pasokan.

Sebagai informasi, contango merupakan suatu situasi pasar yang sedang mengalami kelebihan suplai, mengakibatkan penjualan-penjualan bulan kontrak terjauh dengan premium dan bulan terdekat dengan diskon.

Ketiga, sentimen dari China yang cenderung statis. Pertumbuhan global yang disinkronkan telah menjadi pendorong utama industri logam tahun ini, namun kekhawatiran meningkat terkait tindakan keras China terhadap pasar properti yang akan menjadi penghalang ke depan. Premi pengiriman fisik yang mencakup biaya pengiriman tembaga ke pengguna papan atas China telah ditundukkan tahun ini, menunjukkan bahwa kebutuhan pembelian di negara tersebut tidak menimbulkan tekanan pada pasokan.

Keempat, pembalikan/pola pergantian tren Shanghai (Shanghai Reversal). Nicolas Snowdon, analis Standard Chartered Plc mengatakan, kendala baru-baru ini juga didorong oleh kekhawatiran besarnya long position (posisi beli) yang terakumulasi dalam kontrak Shanghai Futures Exchange dalam beberapa bulan terakhir.

Investor mempertanyakan bagaimana dan kapan posisi tersebut akan dilepas dan mulai berhati-hati dalam menerapkan taruhan bullish mereka sendiri. Perputaran tajam harga pada sesi perdagangan SHFE pada Selasa menunjukkan bahwa posisi tersebut sekarang telah dibatalkan, kata Snowdon.

Saham tercatat merosot sebanyak 4,7% di LME pada Selasa mencapai level terendah dalam dua bulan. Namun, logam tersebut masih naik hingga 19% secara year to date (ytd), terbesar sejak 2010 dengan harga US$6.564 per ton.

“Masih ada downside lebih lanjut sebesar US$200—US$300 dari sini, tetapi orang melihat bahwa posisi itu telah diperkecil dengan tajam. Hal itu bisa membawa banyak tekanan negatif bagi harga,” kata Snowdon.

Sumber : Bloomberg

Tag : harga tembaga, komoditas tembaga
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top