Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menilik Rencana IPO Panca Budi Idaman

Satu lagi perusahaan dengan bidang usaha baru yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia. Kali ini perusahaan produsen kantongan plastik PT Panca Budi Idaman Tbk. yang akan melantai dengan target penggalangan dana hingga senilai Rp857 miliar.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 31 Oktober 2017  |  18:35 WIB
Direktur Utama PT Panca Budi Idaman Tbk. Djonny Taslim( tengah) berbincang dengan Direktur Emiyati (dari kiri), Direktur Fu Yin Ung, Wakil Dirut Vicky Taslim, dan Direktur Tan Hendra, sebelum penawaran perdana saham perseroan, di Jakarta, Selasa (31/10). - JIBI/Endang Muchtar
Direktur Utama PT Panca Budi Idaman Tbk. Djonny Taslim( tengah) berbincang dengan Direktur Emiyati (dari kiri), Direktur Fu Yin Ung, Wakil Dirut Vicky Taslim, dan Direktur Tan Hendra, sebelum penawaran perdana saham perseroan, di Jakarta, Selasa (31/10). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Satu lagi perusahaan dengan bidang usaha baru yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia. Kali ini perusahaan produsen kantongan plastik PT Panca Budi Idaman Tbk. yang akan melantai dengan target penggalangan dana hingga senilai Rp857 miliar.

Perusahaan yang didirikan sejak 1979 oleh Djonny Taslim ini sudah umum dikenal dengan produk-produk kantong plastik bermerek yang banyak dijual di pasar tradisional, antara lain merek Tomat, Wayang, Sparta, Bangkuang, Juruk dan Cabe.

Perusahaan ini menguasai 46,5% pangsa pasar kantongan plastik nasional di Jabodetabek dengan pertumbuhan kinerja tahunan rata-rata antara 18% hingga 20%. Setelah hampir 40 tahun beroperasi, perusahaan ini kini mulai proses initial public offering di Bursa Efek Indonesia.

Panca Budi Idaman atau PBI berencana melepas 738,8 juta saham baru melalui IPO ini dengan nominal Rp100 per saham. Jumlah ini akan setara 33% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO ini.

Dalam due diligent dan public expose yang digelar perseroan pada Selasa (31/10) di Jakarta, perseroan memutuskan untuk melepas sahamnya pada investor publik dengan rentang harga antara Rp810 hingga Rp1.160 per saham.

Dengan demikian, perseroan berpotensi meraup dana segar baru antara Rp598 miliar hingga Rp857 miliar. Sebesar 70% dari dana tersebut akan digunakan untuk belanja modal pembangunan gudang, pabrik, dan pengadaan mesin, sementara 30% sisanya untuk modal kerja.

Tan Hendra, Direktur Keuangan PBI, mengatakan perseroan akan membangun 7 gudang baru dan 2 pabrik di Jawa dan Sulawesi untuk pengembangan pasar. Kebutuhan investasi per gudang berkisar antara Rp45 miliar hingga Rp55 miliar, sementara per pabrik antara Rp85 miliar hingga Rp90 miliar.

Saat ini, kapasitas produksi kantongan plastik perseroan adalah sekitar 72.000 ton per tahun dari 7 pabrik, sementara penjualannya lebih besar yakni antara 90.000 ton hingga 100.000 ton per tahun.

Selama ini, perseroan mengandalkan produksi dari pabrik pihak ketiga untuk memenuhi permintaan penjualan tersebut. Tujuh pabrik perseroan yang telah ada tersebar masing-masing satu unit di Medan, Cilegon, Solo, dan 4 unit di Jabodetabek.

Dua pabrik baru yang akan dibangun perseroan akan menambah kapasitas produksi perseroan masing-masing 27.000 ton per tahun. Pada 2019 mendatang, setelah kedua pabrik baru ini beroperasi, perseroan sudah tidak lagi mengandalkan produksi dari pabrik pihak ketiga.

Djonny Taslim, Direktur Utama dan Pendiri PBI, mengatakan perseroan memfokuskan gudang dan pabriknya di Indonesia bagian timur untuk mendukung program pemerintah membangun Indonesia dari pinggiran.

“Di Indonesia bagian timur kita lihat potensinya sangat besar. Kita lihat program pemerintah juga sangat fokus di Indonesia Timur. Dengan adanya pembangunan di sana sekarang membuat kita lebih efisien untuk membuka pabrik di Indonesia timur,” ungkapnya.

Dirinya tidak kuatir dengan isu pelemahan daya beli selama ini, mengingat kantong plastik merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Perseroan sendiri menyasar end user di pasar tradiosional yang relatif stabil kebutuhannya.

“Yang kita masuki adalah pasar becek, segmen yang benar-benar sangat bawah,” ungkapnya.

Perseroan masuk ke Bursa dengan membawa laporan kinerja keuangan yang cukup prima. Tan Hendra mengatakan, sepanjang sembilan bulan tahun ini, perseroan sudah membukukan penjualan 20% lebih tinggi dibandingkan kinerja setahun penuh 2016.

Adapun, penjualan setahun penuh 2016 adalah Rp3,17 triliun, sehingga penjualan September 2017 adalah sekitar Rp3,8 triliun. Dengan demikian, kinerja hingga akhir tahun ini dipastikan jauh lebih tinggi.

Di sisi lain, tahun lalu laba bersih perseroan melonjak 885% dibandingkan kinerja 2015, atau meningkat dari hanya Rp14 miliar menjadi Rp138 miliar. Margin laba bersih pun meningkat drastis dari 0,5% menjadi 4,36%.

Periode bookbuilding IPO perseroan berlansung mulai akhir bulan ini hingga 15 November 2017. Pernyataan efektif dari OJK diharapkan sudah bisa dikantongi pada 7 Desember 2017. Pada 11 Desember 2017 saham perseroan ditargetkan sudah listing di BEI.

Tiga sekuritas menjadi join lead underwriter (JLU) perseroan, yakni BCA Sekuritas, Bahana Sekuritas, dan CIMB Sekuritas. Ketiga JLU menilai, kisaran harga IPO perseroan masih cukup kompetitif sehingga berpotensi ramai peminat, apalagi perseroan hadir dengan kinerja yang baik di Bursa.

Kisaran harga IPO sebesar Rp810 hingga Rp1.160 per saham mencerminkan nilai PE antara 7 kali hingga 10 kali berdasarkan proyeksi kinerja 2018. Kisaran PE ini masih dalam rentang yang menarik bagi investasi masyarakat di sektor produk konsumer.

Manajemen perseroan sendiri optimistis sahamnya akan diminati publik, sebab selain membawa kinerja keuangan yang unggul, perseroan juga memiliki beberapa nilai tambah. Perseroan merupakan perusahaan pertama di bidang produk jadi kantongan plastik yang mendapat sertifikat halal dari MUI.

Dua merek perseroan, yakni Wayang  dan Tomat pun telah memperoleh  penghargaan top brand dari Indonesia Best Brand tahun 2009 dan 2011. Dalam 10 tahun terakhir, perseroan juga sudah merambah pasar ekspor, antara lain ke United Kingdom, Jerman dan Somalia dengan kontribusi sekitar 5% terhadap total pendapatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emiten plastik dan kemasan
Editor : Riendy Astria
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top