Setengah Emiten Dalam Masa Ex-Dividend, Indeks Topix Ditutup Melemah

Indeks Topix ditutup melemah 0,5% atau 8,31 poin ke level 1.664,42, sedangkan indeks Nikkei 225 melemah 0,31% atau 63,14 poin ke level 20.267,05.
Aprianto Cahyo Nugroho | 27 September 2017 15:47 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Jepang ditutup melemah pada perdagangan Rabu (27/9/2017), karena lebih dari setengah emiten di indeks Topix diperdagangkan pada saat ex-dividend.

Indeks Topix ditutup melemah 0,5% atau  8,31 poin ke level 1.664,42, sedangkan indeks Nikkei 225 melemah 0,31% atau 63,14 poin ke level 20.267,05.

Sektor utilitas menjadi penekan utama pada indeks Topix setelah 1.127 emiten pada indeks diperdagangkan pada tangga ex-dividend.

Sebagai informasi, ex-dividend date adalah hari yang tidak termasuk mendapatkan dividen. Biasanya satu hari bursa setelah cum-dividend, apabila investor membeli saham pada hari ex-dividend, tidak akan mendapatkan dividen.

Waktu ex-dividend atau ex-date merupakan hari pertama dimana pemegang saham tidak berhak lagi mendapatkan dividen dari suatu perusahaan. 

"Saham akan mendapat tekanan oleh dampak ex-dividend," kata Shinichi Yamamoto, analis senior di Okasan Securities Co, seperti dikutip Bloomberg.

"Namun, penurunan mata uang yen Jepang dan ekspektasi stabilitas politik di sisi lain dapat memberikan dukungan pada indeks," lanjutnya.

Nilai tukar yen terpantau melemah 0,47% atau 0,53 poin ke 112,77 per dolar AS pada pukul 14.34 WIB, setelah kemarin berakhir terdepresiasi 0,47% di posisi 112,25.

Yen memperpanjang penurunan setelah melemah terhadap dolar AS semalam karena Gubernur Federal Reserve Janet Yellen menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS di bulan Desember.

Yellen mengatakan menaikkan suku bunga acuan secara bertahap adalah sikap kebijakan yang tepat mengingat ketidakpastian seputar inflasi.

Sementara itu, Perdana Menteri Shinzo Abe mengatakan pada hari Senin bahwa dia akan membubarkan majelis rendah parlemen pada 28 September untuk pemilihan umum.

Partai Demokrat Liberal (LDP) yang mengusung Abe menghadapi tantangan pada pemilihan umum mendatang dari partai oposisi utama Partai Demokrat dan juga partai lainnya, termasuk Partai Harapan baru yang dipimpin oleh Gubernur Tokyo Yuriko Koike yang populer.

"Bahkan jika LDP kehilangan beberapa kursi dalam pemilihan cepat, itu seharusnya tidak berarti pergeseran kekuatan secara keseluruhan, dan pemerintahan yang stabil menjadi sentimen positif untuk saham," kata Yamamoto.

Tag : bursa jepang
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top