Ketegangan AS-Korut, Emas Malah Terkoreksi

Harga emas kembali terkoreksi setelah sebelumnya mengalami penguatan akibat babak baru ketegangan antara Amerika Serikat dengan Korea Utara.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 26 September 2017  |  10:21 WIB
Ketegangan AS-Korut, Emas Malah Terkoreksi
Emas - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Harga emas kembali terkoreksi setelah sebelumnya mengalami penguatan akibat babak baru ketegangan antara Amerika Serikat dengan Korea Utara.

Pada perdagangan Selasa (26/9/2017) pukul 9.40 WIB, harga emas turun 0,70 poin atau 0,05% menuju US$1.310,08 per troy ounce. Harga masih menguat 14,17% sepanjang tahun berjalan.

Adapun harga emas Comex kontrak Desember 2017 dalam waktu yang sama naik 2,30 poin atau 0,18% menjadi US$1.313,80 per troy ounce. Harga meningkat 13,68% sepanjang 2017.

Asia Trade Point Futures (ATPF) dalam publikasi risetnya hari ini menyampaikan, pernyataan Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho bahwa Pyongyang memiliki hak untuk menembak jatuh pesawat pembom AS mampu memicu kembali menguatnya harga emas.

“Menguatnya harga emas ini di tengah respon positif pasar terhadap rencana kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Desember mendatang,” papar ATPF.

Tampak pelaku pasar masih merasa khawatir dengan berlarutnya masalah seputar Korut. Tercatat emas ditutup menguat sebesar 1,04% di level US$1310,49 per troy ounce kemarin.

Sementara itu, pernyataan Gubernur The Fed wilayah New York William Dudley yang bernada hawkish direspon positif oleh pelaku pasar pada sesi perdagangan semalam.

Respon tersebut memicu nilai tukar USD berada dilevel tertinggi sejak tanggal 21 September 2017. Dalam pernyataannya Dudley mengatakan bahwa The Fed masih berjalan di jalur yang tepat dan inflasi yang rendah mulai luntur sedangkan fundamental ekonomi AS mulai pulih.

Tercatat hingga akhir perdagangan semalam indeks USD ditutup menguat sekitar 0,42% dilevel 92,63. Namun, pada perdagangan Selasa (26/9/2017) pukul 9.32 WIB, DXY kembali terkoreksi 0,075 poin atau 0,08% menuju 92,573.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emas, logam mulia

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top