NILAI TUKAR 20 APRIL: Rupiah Ditutup Melemah Hari Kelima, Pasar Tunggu Putusan RDG BI

Nilai tukar rupiah memperpanjang pelemahannya pada penutupan perdagangan hari kelima berturut-turut, Kamis (20/4/2017).
Renat Sofie Andriani | 20 April 2017 17:28 WIB
Uang rupiah. - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah memperpanjang pelemahannya pada penutupan perdagangan hari kelima berturut-turut, Kamis (20/4/2017).

Rupiah ditutup melemah tipis 0,03% atau 4 poin ke Rp13.323 per dolar AS, setelah dibuka dengan pelemahan 0,10% atau 13 poin di posisi 13.332 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp13.313 – Rp13.340 per dolar AS.

Adapun pada perdagangan Rabu (19/4), rupiah ditutup melemah 0,16% atau 21 poin di posisi 13.319 per dolar AS.

Rupiah ditutup melemah pada perdagangan hari kelima, setelah berakhir melemah 0,14% di posisi 13.274 pada 14 April.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan mata uang dolar terhadap mata uang utama lainnya terpantau melemah 0,33% atau 0,333 poin ke posisi 99,405 pada pukul 16.36 WIB setelah kemarin ditutup rebound 0,24% atau 0,239 poin di 99,738.

Rupiah tetap melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, di saat mayoritas mata uang lainnya di Asia telah menguat.

Baht Thailand memimpin penguatan kurs Asia dengan 0,17%, diikuti oleh dolar Singapura sebesar 0,1%, dan renminbi China yang naik 0,07%.

Pasar saat ini sedang menantikan putusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Suku bunga acuan Bank Indonesia, 7 Day Repo Rate, diperkirakan tidak akan mengalami perubahan atau tetap berada dalam level 4,75% pada bulan ini mengingat stabilitas perekonomian domestik masih kuat. 

Sebanyak 14 ekonom yang disurvei Bloomberg yakin akan mempertahankan 7 Day Repo Rate (7DDR) pada kisaran 4,75%. Dengan demikian, suku bunga 4,75% telah bertahan sejak Oktober atau lima bulan berturut-turut. 

Kepala Ekonom CIMB Niaga Adrian Panggabean menuturkan suku bunga seharusnya netral saat ini karena Bank Indonesia tidak memiliki alasan kuat untuk menaikan atau menurunkan suku bunga.

"Sampai semester I/2017, karena pertumbuhan ekonomi segitu [kisaran 5%], production capacity atau manufacturing capacity masih 75%-76%, maka tidak ada alasan bagi Bank Indonesia untuk menaikan suku bunga atau menurunkan," ujarnya, seperti dilansir Bisnis.com (19/4).

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top