Indeks Dow Jones Berakhir Melemah

Bursa saham AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), mengekor pelemahan bursa saham Eropa setelah Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May secara mengejutkan mengumumkan pemilihan umum dini demi memperkuat posisinya dalam negosiasi Brexit.
Renat Sofie Andriani | 19 April 2017 07:03 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham AS ditutup melemah pada perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB), mengekor pelemahan bursa saham Eropa setelah Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May secara mengejutkan mengumumkan pemilihan umum dini demi memperkuat posisinya dalam negosiasi Brexit.

Indeks S&P 500 ditutup turun 0,29% ke posisi 2.342,18, sedangkan indeks Dow Jones berakhir melemah 0,55% ke level 20.523,28.

Dilansir Bloomberg (Rabu, 19/4/2017), indeks S&P 500 harus berjuang setelah membukukan performa harian terbaiknya sejak 1 Maret, dengan saham perusahaan kesehatan, produsen energi, dan perusahaan finansial memimpin pelemahan.

Saham Goldman Sachs Group Inc. anjlok hampir 5%, penurunan terbesar dalam sembilan bulan, setelah mengejutkan Wall Street dengan penurunan dalam pendapatan perdagangan obligasi.

Harga logam dasar seperti seng dan nikel turun di tengah skeptisisme akan permintaan dari China dan AS.

Sementara itu, pergerakan bursa saham Eropa berakhir melemah pada sesi perdagangan kemarin, bersama dengan indeks FTSE 100 Inggris setelah Perdana Menteri (PM) Theresa May mengumumkan akan menyelenggarakan pemilihan umum lebih dini.

Indeks Stoxx Europe 600 ditutup merosot 1,1% pada perdagangan Selasa dan indeks FTSE 100 Inggris anjlok 2,5% di saat kinerja mata uang pound sterling menguat terhadap dolar setelah May mengumumkan percepatan pemilihan umum pada Juni tahun ini.

Meski menyatakan enggan untuk menyelenggarakan percepatan pemilihan umum, PM May kemarin menegaskan bahwa Inggris memerlukan stabilitas selama negosiasi Brexit. Jajak pendapat menunjukkan partai Konservatif unggul lebih dari 20 poin atas oposisi utamanya.  

“Laporan keuangan akan menjadi fokus utama bagi para investor selama beberapa pekan ke depan, namun jumlah isu geopolitik yang dihadapi pasar terus bertambah,” ujar Matt Maley, equity strategist Miller Tabak & Co.

Tag : bursa as
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top