Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

TPIA Incar Industri Otomotif

Produsen petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. menargetkan memperbesar kontribusi penjualan dari sektor otomotif di masa yang akan datang. Hal itu dimulai dengan memasok resin kepada PT Toyota Motor manufacturing Indonesia akhir tahun ini
Pekerja PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) menuangkan biji plastik (polypropylene) ramah lingkungan untuk bahan membuat kantong plastik yang mudah lapuk kembali menjadi tanah dalam tempo 4 bulan, di Cilegon, Banten, Selasa (12/11). Perusahaan petrokimia tersebut memproduksi biji plastik ramah lingkungan dengan kode Asrene SF5008E untuk dipasarkan ke semua kota Besar di Indonesia untuk mengurangi dampak buruk limbah plastik konvensional yang tidak bisa lapuk dalam ratusan tahun./antara
Pekerja PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) menuangkan biji plastik (polypropylene) ramah lingkungan untuk bahan membuat kantong plastik yang mudah lapuk kembali menjadi tanah dalam tempo 4 bulan, di Cilegon, Banten, Selasa (12/11). Perusahaan petrokimia tersebut memproduksi biji plastik ramah lingkungan dengan kode Asrene SF5008E untuk dipasarkan ke semua kota Besar di Indonesia untuk mengurangi dampak buruk limbah plastik konvensional yang tidak bisa lapuk dalam ratusan tahun./antara

Bisnis.com, JAKARTA—Produsen petrokimia PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. menargetkan memperbesar kontribusi penjualan dari sektor otomotif di masa yang akan datang. Hal itu dimulai dengan memasok resin kepada PT Toyota Motor manufacturing Indonesia akhir tahun ini.

Suhat Miyarso, Vice President Corporate Relations Chandra Asri Petrochemical, mengatakan kontribusi dari penjualan resin kepada PT Toyota Motor manufacturing Indonesia (TMMIN) tahun ini memang belum signifikan karena baru dimulai pada Desember.

Untuk tahap awal, pasokan resin dari emiten bersandi TPIA itu akan digunakan pada produk Toyota Yaris dan Toyota Vios. Selanjutnya, resin dari TPIA akan digunakan pula pada produk Toyota Kijang Innova dan Toyota Fortuner tahun depan.

Pada 2017, resin dari TPIA pun digunakan pabrikan lainnya seperti Daihatsu pada produk Sigra, Honda pada mobil HR-V, Mobilio, Brio dan Jazz, serta Nissan pada Grand Livina.

“Akhir tahun ini baru Toyota dan tahun depan kami menyasar 500.000 unit mobil dengan kemungkinan satu mobil pakai resin 50 Kg jadi totalnya pada 2017 itu 25.000 ton dengan nilai US$1.100 hingga US$1.200 per ton,” katanya kepada Bisnis, Senin (12/12/2016).

Artinya, dari penjualan resin untuk industri otomotif pada 2017 perseroan memproyeksikan sekitar US$27,5 juta hingga US$30 juta. Sebelumnya, pabrikan petrokimia terbesar dan terintegrasi di Indonesia itu menargetkan pendapatan pada 2017 sekitar US$2 miliar.

Pihaknya berharap, ke depan perseroan dapat memasok semua keperluan resin bagi pabrikan mobil yang membuat produknya di Indonesia. Hal itu seiring dengan tuntutan pemerintah kepada industri otomotif untuk memperbesar tingkat kandungan dalam negeri (TKDN).

Suhat melihat prospek bisnis petrokimia sebagai salah satu bahan baku industri otomotif di dalam negeri sangat besar. Mengutip data Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, kapasitas terpasang industri mobil Indonesia saat ini menembus 2 juta unit per tahun.

Adapun penjualan mobil di dalam negeri yang tercatat oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) baru mencapai 1,1 juta unit hingga 1,2 juta per tahun termasuk produk impor.

“Sehingga besar kemungkinan ke depan penjualan dari sektor otomotif bertambah karena produksi mobil makin banyak. Selama diperlukan berapa pun permintaannya kami berusaha untuk sediakan karena kami memiliki target memasok kebutuhan industri dalam negeri,” ujarnya.

Kesanggupan TPIA tersebut tak terlepas dari kapasitas produksi perseroan yang besar. Sebagai gambaran, saat ini kapasitas produksi yang dimiliki perseroan mencapai 3,301 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut jika dirinci kapasitas produksi terbesar digunakan untuk ethylene yang mencapai 860.000 ton per tahun.

Sisanya, polypropylene 480.000 ton per tahun, propylene mencapai 470.000 ton per tahun, Py-gas 400.000 ton per tahun, styrene monomer 340.000 ton per tahun, Polyethylene 336.000 ton per tahun, mixed C4 315.000 ton per tahun dan butadiene 100.000 ton per tahun. 

Dia melanjutkan, produk resin dari TPIA yang diserap industri otomotif tersebut adalah jenis impact copolymer yang merupakan turunan dari polypropylene. Resin tersebut menggunakan merek dagang Trilene. Dalam industri otomotif, resin diaplikasikan sebagai bahan baku plastik pelapis interior dan eksterior kendaraan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper