Inter Delta (INTD) Diversifikasi Usaha, Cari Dana Rp100 Miliar

PT Inter Delta Tbk. membutuhkan dana hingga Rp100 miliar yang rencananya didapatkan perseroan melalui pinjaman bank guna mendanai diversifikasi usaha
Lingga Sukatma Wiangga
Lingga Sukatma Wiangga - Bisnis.com 02 Juni 2016  |  00:10 WIB
Inter Delta (INTD) Diversifikasi Usaha, Cari Dana Rp100 Miliar
Pedagang memisahkan tulang dari daging saat berjualan di Pasar Peunayung, Banda Aceh, Rabu (12/8). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—PT Inter Delta Tbk. membutuhkan dana hingga Rp100 miliar yang rencananya didapatkan perseroan melalui pinjaman bank guna mendanai diversifikasi usaha.

Hasan Efendi Liem, Presiden Direktur Inter Delta mengatakan, diversifikasi usaha yang akan dirintis pihaknya adalah impor daging sapi. Dia menyebut kini pihaknya tengah menjajaki bisnis tersebut. Rencananya, setelah Lebaran pada pertengahan tahun ini perseroan akan mengurus perijinan terkait impor daging sapi itu.

“Proses ijinnya panjang, mungkin satu hingga dua tahun ke depan bisnis impor daging ini baru bisa jalan. Saat ini kebutuhan makanan banyak impor termasuk daging sapi, pasarnya di Indonesia sangat besar,” katanya kepada Bisnis setelah rapat umum pemegang saham (RUPS), Rabu (1/6/2016).

Pinjaman bank rencananya akan menjadi satu-satunya cara bagi perseroan mendapatkan dana tersebut. Hasan optimistis jika perijinan sudah rampung akan mudah mendapatkan pinjaman dari bank untuk melakukan diversifikasi usaha yang dimaksud.

Sebabnya, perseroan diklaim dirinya memiliki aset yang bisa menjamin kemudahan peminjaman modal tersebut. Namun, dia belum dapat mengatakan bank mana yang diincar pihaknya maupun tenor pembayaran pinjaman.

Merujuk laporan keuangan perseroan periode Januari-Maret 2016, total aset mencapai Rp47,65 miliar. Di sisi lain, perseroan pun saat ini tidak memiliki beban utang terhadap bank. Saat ini pihaknya sudah membidik asal negara yang akan memasok daging sapi, yaitu di kawasan Eropa khususnya Spanyol.

“Karena kami memiliki relasi di sana,” terangnya.

Kelak, dalam satu tahun INTD menargetkan dapat mendatangkan sekitar 1.000 ton daging sapi dengan omset hingga Rp100 miliar. Diversifikasi usaha itu menurutnya bisa berbentuk anak usaha baru atau pun divisi usaha anyar langsung di bawah INTD.

Diversifikasi usaha tersebut ke depan memang diharapkan dapat menopang kinerja perseroan. Sebabnya, bidang usaha perseroan yaitu bisnis foto yang meliputi penjualan kertas cetak foto , penjualan bahan kumia untuk cetak foto, dan penjualan film untuk foto dari tahun ke tahun kian tergerus jaman.

Hasan mengakui digitalisasi fotografi kian menggerus kinerja perusahaannya. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir pendapatan dan laba perseroan terus menukik. Pada 2013 pendapatan perseroan mencapai Rp106,04 miliar dengan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp5,39 miliar.

Tahun berikutnya pendapatan perseroan tercatat Rp93,81 miliar dengan laba Rp3,41 miliar. Sedangkan pada tahun lalu pendapatan perseroan hanya Rp85,86 miliar dengan laba Rp3,04 miliar.

Kendati demikian pihaknya tahun ini menargetkan pertumbuhan pendapatan di kisaran 5% hingga 10% dengan laba seperti tahun lalu. Terkait pendapatan pihaknya optimistis naik karena memasarkan produk anyar yaitu dry lab yang kini kian diminati dan tumbuh dalam mencetak hasil foto dari produk lawas, mini lab.

Sedangkan terkait laba dia menyebut tak akan bergerak banyak dari tahun lalu karena harga penjualan yang ditekan agar kompetitif seiring persaingan ketat sehingga mempersempit margin. Dia menambahkan, optimisme menggenjot penjualan pun muncul karena kontribusi dry lab akan bertambah.

Tahun ini diperkirakan kontribusinya mencapai 15% hingga 20% sedangkan tahun lalu sekitar 10%. Hal itu akan menggerus kontribusi penjualan kertas cetak foto , penjualan bahan kumia untuk cetak foto, dan penjualan film untuk foto yang tahun lalu masing-masing sebesar 76,82%, 11,76% dan 1,73%.

Dia menambahkan, pihaknya saat ini bisa bertahan di bisnis foto karena disokong oleh sembilan cabang distribusi. Dalam hal penjualan pihaknya saat ini ditopang oleh sekitar 600 usaha fotografi seperti Jonas Photo Studio. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top