Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

INDEF: Yield Obligasi Pemerintah Seharusnya Bisa Turun

Ekonom Institute for Development Economy and Finance (INDEF) Dzulfian Syarifan menilai obligasi atau surat utang pemerintah memiliki imbal hasil (yield) sangat tinggi berkisar 6%-8,5%.
Veronika Yasinta
Veronika Yasinta - Bisnis.com 03 April 2016  |  19:45 WIB
INDEF: Yield Obligasi Pemerintah Seharusnya Bisa Turun
Ilustrasi
Bagikan
Bisnis.com, JAKARTA--Ekonom Institute for Development Economy and Finance (INDEF) Dzulfian Syarifan menilai obligasi atau surat utang pemerintah memiliki imbal hasil (yield) sangat tinggi berkisar 6%-8,5%.
 
Dia berpendapat seharusnya obligasi pemerintah dapat turun perlahan seperti Bank Indonesia rate, misalkan untuk tenor 10 tahun bisa turun perlahan ke level 7%-7,5%.
 
Tingginya modal asing yang masuk ke obligasi pemerintah ini harus diwaspadai oleh Pemerintah karena jika terjadi penarikan modal secara tiba-tiba, katanya.
 
Terjadinya penarikan modal itu bakal kontraproduktif terhadap perekonomian nasional khususnya sektor keuangan mengingat sekitar 40% obligasi pemerintah dan 60% pasar modal Indonesia dimiliki investor asing.
 
Menurutnya, pemerintah belum sinkron menetapkan kebijakan karena imbal hasil obligasi yang ditawarkan pemerintah masih tinggi. Padahal, bank sentral telah mengeluarkan kebijakan moneter yang ekspansif dengan pemotongan BI rate dalam tiga bulan terakhir.
 
Dzulfian mengkhawatirkan apabila pemerintah tidak segera menurunkan imbal hasil obligasinya dapat menimbulkan kekeringan likuiditas di pasar keuangan.
 
"Bank-bank harus berkompetisi dengan obligasi pemerintah yang justru akan kontraproduktif bagi perekonomian nasional," ucapnya.
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indef yield obligasi
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top