Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fitch Turunkan Peringkat Perusahaan Sawit Eka Tjipta Widjaja

Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan peringkat tiga perusahaan perkebunan kelapa sawit milik orang terkaya ke-4 di Indonesia, pemilik Grup Sinarmas Eka Tjipta Widjaja, lantaran tekanan harga komoditas dari stabil menjadi negatif.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 23 Maret 2016  |  21:42 WIB
Fitch Turunkan Peringkat Perusahaan Sawit Eka Tjipta Widjaja
Buah kelapa sawit - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA--Lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings menurunkan peringkat tiga perusahaan perkebunan kelapa sawit milik orang terkaya ke-4 di Indonesia, pemilik Grup Sinarmas Eka Tjipta Widjaja,  lantaran tekanan harga komoditas dari stabil menjadi negatif.

Rufina Tam, analis Fitch Ratings Indonesia, menilai tiga perusahaan yang peringkatnya diturunkan adalah PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR), PT Ivo Mas Tunggal, dan PT Sawit Mas Sejahtera.

"Penilaian nasional jangka panjang pada tiga perusahaan menegaskan pada level AA (idn). SMART, IMT, dan SMS sepenuhnya dimiliki oleh Golden Agri Resources Ltd., " katanya dalam siaran pers, Selasa (22/3/2016).

Pada saat bersamaan, Fitch juga menegaskan peringkat obligasi jangka panjang emiten berkode saham SMAR senilai Rp1 triliun yang jatuh tempo pada 2017 dan 2019 pada level AA (idn). Peringkat nasional AA mencerminkan ekspektasi akan risiko gagal bayar yang relatif rendah terhadap perusahaan atau obligasi yang diterbitkan di negara yang sama.

Fitch menurunkan peringkat ketiga perusahaan itu karena terjadi peningkatan leverage Golden Agri Resources lantaran tekanan harga komoditas hingga 2017. Rendahnya harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) dan hilirisasi yang dilakukan perusahaan itu membuat tekanan pada arus kas dan leverage keuangan Golden Agri.

Pada tahun lalu, Golden Agri Resources membukukan penurunan penjualan 15% menjadi US$6,5 miliar. Margin EBITDA juga tetap tertekan menjadi 7,4% dari 6,6% pada tahun sebelumnya. Begitu pula net debt to EBITDA yang meningkat menjadi 5,5 kali dari 5,2 kali pada 2014.

Secara terpisah, analis PT DBS Vickers Indonesia Ben Santoso, menilai Golden Agri Resources sebagai induk tiga perusahaan perkebunan itu masih terimbas produksi tandan buah segar antara 8%-10% lantaran elnino.

"Kalau rupiah terus menguat, kekuatan Golden Agri Resources untuk debt servicing akan terganggu. Ini mempengaruhi cash flow yang dilihat pemeringkat bonds," katanya saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (23/3/2016).

Menurutnya, harga CPO dalam dolar Amerika Serikat masih mengalami kenaikan. Namun, bila dikonversi ke dalam rupiah, kenaikan tersebut dikalahkan oleh tekanan penguatan mata uang Indonesia.

Secara umum produksi kelapa sawit, sambungnya, periode kuartal I/2016 menjadi capaian terendah selama setahun terakhir. Kondisi itu yang ditambah adanya El Nino membuat profitabilitas perusahaan CPO diproyeksi memburuk dibandingkan dengan kuartal IV/2015.

Perusahaan berbasis CPO, katanya, hanya tinggal menunggu lantaran harga CPO mulai rebound di pasar internasional. Diproyeksi, harga CPO akan mulai lebih baik pada kuartal II/2016, yang berdampak positif pada kinerja perseroan.

Adapun, Ben menilai hilirisasi yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit tak lagi mampu membantu profitabilitas perseroan. Kapasitas kilang minyak jauh lebih tinggi dari produksi, dan oleo kimia juga di atas permintaan.

Dia menjelaskan, kapasitas dua jenis hilirisasi itu telah melampaui produksi dan permintaan. Sehingga, margin yang diraup tidak lagi menjanjikan. Terlebih, posisi Januari 2016 saja tercatat telah negatif.

Untuk menutup biaya operasional, ucapnya, tingkat utilisasi refinary dan oleochemical  perlu setidaknya 70%. Saat ini, perusahaan kebun sawit yang telah memiliki hilirisasi di dua jenis tersebut rerata mencapai 60%.

"Itu pun sudah dengan mesin terbaru yang lebih efisien. Mungkin lebih ditekankan ke arah mixed product tertentu dengan margin lebih besar. Tapi, semakin spesialisasi, volume pemakaian semakin kecil. Oleochemical juga bersaing dengan petrochemical yang lebih murah," jelasnya.

Dalam keterbukaan informasi di PT Bursa Efek Indonesia, Direktur Utama SMART Jo Daud Dharsono mengumumkan revisi peringkat dari Fitch Ratings.

Menurutnya, lemahnya harga CPO dan ekspansi di bisnis hilir telah menekan arus kas perusahaan dan leverage keuangan. "Revisi outlook mencerminkan pandangan Fitch bahwa tekanan harga komoditas akan berkepanjangan yang menyebabkan leverage akan tetap tinggi sampai 2017," tulisnya.

Golden Agri Resources adalah perusahaan perkebunan milik Grup Sinarmas. Eka Tjipta Widjaja merupakan taipan terkaya ke-4 di Indonesia versi majalah Forbes dengan kekayaan ditaksir senilai US$5,3 miliar setara dengan Rp68,9 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sinar mas orang terkaya fitch ratings
Editor : Martin Sihombing
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top