Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kinerja Saham Cenderung Tertekan, Pengembangan Produk Jadi Tantangan Emiten Kimia

Kinerja saham mayoritas emiten kimia awal tahun ini belum terlihat bergeliat, pengembangan produk akan menjadi tantangan untuk menstimulus tren positif
Pengembangan produk menjadi tantangan untuk menstimulus tren positif bagi emiten kimia/ilustrasi-sorini.co.id
Pengembangan produk menjadi tantangan untuk menstimulus tren positif bagi emiten kimia/ilustrasi-sorini.co.id

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja saham mayoritas emiten kimia awal tahun ini belum terlihat bergeliat, pengembangan produk akan menjadi tantangan untuk menstimulus tren positif.

Dari data yang dihimpun Bisnis, ada sekitar sepuluh emiten yang bergelut di sektor kimia. Merujuk data Bloomberg, secara year to date (y-t-d) kinerja saham empat emiten terkoreksi dan hanya dua emiten yang menunjukan tren positif.

Emiten yang sahamnya terkoreksi yaitu, PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk. (DPNS) 11,11%, PT Eterindo Wahanatama Tbk (ETWA) 5,13%, PT Sorini Agro Asia Corporindo Tbk. (SOBI) 10,00%, PT Unggul Indah Cahaya Tbk. 10,47%, dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk 1,31%.

Adapun emiten yang mengalami return diantaranya PT Barito Pasific Tbk. (BRPT) 60,00%, dan PT Intanwijaya Internasional Tbk. 2,95%, sedangkan PT Budi Starch & Sweetener Tbk., PT Ekadharma International Tbk., dan PT Indo Acidatama Tbk., mengalama return 0,00%.

Alfred Nainggolan, analis PT Koneksi Capital mengatakan, kinerja emiten kimia dihadapkan pada tantangan pengembangan produk. Saat ini, mayoritas produk yang dihasilkan masih berupa barang setengah jadi.

Hal itu mempersulit ruang gerak memperluas usaha khususnya penetrasi ekspor. Dia menyebut, agar kinerja melejit diperlukan tambahan investasi khususnya penanaman modal asing.

“Jika ada investasi asing pengembangan produk bisa ditingkatkan dan alih teknologi juga. Pengembangan produk terkendala infratruktur dan bahan baku yang harus impor, dengan tambahan investasi bahan baku bisa dibuat di Indonesia” katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Menurutnya, karena banyak bahan baku yang harus diimpor kinerja emiten kimia tahun ini masih berat mengingat rupiah besar kemungkinan masih akan terdepresiasi walaupun tidak sedalam tahun lalu.

Meski demikian, lanjut dia, emiten kimia dapat memanfaatkan anjloknya harga minyak dunia yang di bawah US$30 per barel untuk mengangkat kinerja. Turunnya harga minyak dunia tersebut akan memotong biaya produksi dan distribusi.

Guntur Tri Hariyanto analis dari PT Pefindo Riset Konsultasi mengamini Alfred. Menurutnya, paket kebijakan ekonomi pemerintah yang diharapkan dapat menarik minat investor asing bisa dimanfaatkan emiten kimia untuk meningkatkan kinerja.

“Karena saat ini industry kimia tidak benar-benar memiliki teknologi sendiri dan tidak memproduksi row material. Dengan investasi itu aka nada alih teknologi dan bisa memproduksi bahan baku di dalam negeri,” ujarnya.

Akan tetapi, dia menyebut emiten kimia harus mewaspadai depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Hal itu bisa memberatkan karena sebagian besar bahan baku masih harus diimpor.

Selain itu, emiten kimia pun dihadapkan pada tantangan Yuan yang sengaja didevaluasi pemerintah China. Hal itu memungkinkan harga produk kimia dari Tiongkok lebih murah saat diekspor ke Indonesia.

Guntur menambahkan, di sisi lain masih ada peluang bagi emiten kimia untuk meningkatkan kinerja dengan berharap pada perbaikan kondisi ekonomi tahun ini. Selain itu, emiten kimia dapat berharap pada turunnya harga minyak dunia.

“Karena turunannya banyak dari harga minyak yang anjlok. Harga bisa turun biaya produksi pun turun,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Sumber : Harian Bisnis Indonesia, Rabu (27/1/2016)

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper