Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mengapa Rupiah Masih Terpuruk, Ini Penjelasan BI

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah yang masih saja terjadi selama kuartal III/2013 dikarenakan penyesuaian kepemilikan nonresiden di aset keuangan domestik.

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah yang masih saja terjadi selama kuartal III/2013 dikarenakan penyesuaian kepemilikan nonresiden di aset keuangan domestik.

Dalam siaran pers siang ini (8/10/2013), Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Difi A. Johansyah mengatakan nilai tukar rupiah pada kuartal III/2013 mengalami depresiasi sejalan dengan nilai fundamentalnya.

Secara rata-rata, rupiah melemah 8,18% (qtq) ke level Rp10.652 per dolar AS atau secara point to point rupiah terdepresiasi 14,29% (qtq) ke level Rp11.580 per dolar AS.

Seperti halnya pelemahan mata uang negara-negara di kawasan Asia, depresiasi nilai tukar rupiah terutama dipengaruhi oleh penyesuaian kepemilikan nonresiden di aset keuangan domestik dipicu oleh sentimen terkait pengurangan (tapering off) stimulus moneter oleh the Fed.

Dari sisi fundamental, tekanan depresiasi rupiah lebih besar dengan relatif tingginya defisit transaksi berjalan di Indonesia. Pada akhir Triwulan III-2013 tekanan rupiah berkurang, sejalan dengan membaiknya kinerja inflasi dan neraca perdagangan serta sentimen positif penundaan tapering off oleh the Fed.

Keyakinan pasar valas semakin pulih dengan permintaan dan penawaran yang semakin aktif dan berimbang dalam membentuk nilai tukar rupiah di pasar. Bank Indonesia memandang bahwa perkembangan nilai tukar pada saat ini menggambarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia.

Dari sisi eksternal, BI menilai kinerja Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal III/2013 diperkirakan akan membaik. Defisit transaksi berjalan akan menyempit terutama dengan menurunnya impor seiring dengan melemahnya permintaan domestik dan dampak pelemahan nilai tukar Rupiah.

Di sisi lain, surplus Transaksi Modal dan Finansial (TMF) akan lebih besar, seiring kembali masuknya investor asing pada SBI dan SUN serta berkurangnya net jual asing atas saham domestik sebagai respon kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah serta penundaan tapering off di AS.

Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa pada akhir September 2013 diperkirakan menjadi US$95,7 miliar, meningkat dari posisi akhir Agustus 2013 sebesar 93,0 miliar dolar AS. Cadangan devisa pada akhir September tersebut setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 8 Oktober 2013 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 7,25%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility tetap pada level 7,25% dan 5,50%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Fahmi Achmad
Editor : Yusran Yunus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper