Deflasi & Surplus Perdagangan Angkat IHSG

Bisnis.com, JAKARTA - Membaiknya data ekonomi Indonesia terkait surplus neraca perdagangan Agustus dan deflasi September, membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Selasa (1/10/2013) menguat 0,69% ke level 4.345,89.
Giras Pasopati
Giras Pasopati - Bisnis.com 02 Oktober 2013  |  00:21 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Membaiknya data ekonomi Indonesia terkait surplus neraca perdagangan Agustus dan deflasi September, membuat indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Selasa (1/10/2013) menguat 0,69% ke level 4.345,89.

“Penguatan IHSG pada hari ini [Selasa] memang lebih terpengaruh faktor domestik. Hal itu positif di tengah kekhawatiran pasar akan sentimen global terkait shutdown AS,” ujar Kepala Riset PT Trust Securities Reza Priyambada kepada Bisnis, Selasa (1/10/2013).

Menurut Reza, rilis neraca perdagangan Agustus yang surplus hingga US$132,4 juta dan deflasi September sebesar 0,35% membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia.

“Untuk jangka pendek proyeksi pergerakan indeks bakal positif. Namun spekulasi mengenai debt ceiling [pagu utang] AS dapat menjadi penghambat indeks,” katanya.

Reza menuturkan selain sentimen tersebut, patut diwaspadai juga adanya profit taking setelah penaikan pada perdagangan Selasa.

“Investor saat ini acap kali merasa tidak yakin terhadap proyeksi penguatan lanjutan, sehingga memutuskan untuk melakukan aksi jual setelah indeks menguat".

Dia menambahkan jika dilihat secara teknikal, maka terdapat potensi penguatan untuk perdagangan selanjutnya. Reza memperkirakan pada perdagangan Rabu (2/10/2013), indeks bakal bergerak di kisaran 4.300 hingga 4.387.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan Agustus 2013 berhasil surplus hingga US$132,4 juta. Surplus terjadi karena ekspor di bulan tersebut mencapai angka US$13,16 miliar. Sementara nilai impor Agustus mencapai US$13,03 miliar.

Data perdagangan Agustus 2013 menunjukkan ekspor mengalami penurunan sebesar 6,31% dibandingkan dengan Agustus 2012. Penurunan didominasi oleh anjloknya ekspor non-migas, yakni sebesar 18,88%. Sementara ekspor migas mengalami kenaikan 21,5% selama periode satu tahun tersebut.

Selain itu data BPS juga menunjukkan usaha pemerintah untuk mengendalikan laju inflasi mulai tampak membuahkan hasil. Tercatat di bulan September terjadi deflasi bulanan yang baru sekali ini terjadi sejak September 2001.

BPS melaporkan selama September 2013 telah terjadi deflasi hingga 0,35%. Secara tahunan (year on year) tingkat inflasi September 2013 mencapai 7,57%. Inflasi intinya sendiri di September tercatat sebesar 4,72%.

Pada perdagangan Selasa lalu indeks menguat 0,69% ke 4.345,89, tercatat dengan frekuensi dagang 154.774 kali yang mencetak total volume di pasar reguler dan negosiasi sebesar 3,71 miliar saham.

Selain itu tercatat sebanyak 140 saham naik, 110 saham turun, 109 tak bergerak, dan 173 tak ditransaksikan. Transaksi yang dibukukan senilai Rp4,16 triliun, terdiri dari transaksi di pasar reguler Rp3,63 triliun dan pasar negosiasi Rp529,18 miliar.

Pergerakan bursa saham regional Asia mayoritas tercatat bergerak variatif, indeks Hang Seng Hongkong turun 1,50%, indeks Nikkei Jepang menguat 0,20%, dan indeks Straits Times Singapura menguat 0,43%. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, deflasi, 2013, neraca perdaganga

Editor : Yusran Yunus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top