Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

HARGA KARET: Turun, Manufaktur China Melambat

BISNIS.COM, TOKYO—Harga karet berjangka di Tokyo turun untuk pertama kalinya dalam 3 hari setelah pertumbuhan manufaktur China berada di laju yang paling lambat dalam 4 bulan, negara tersebut adalah konsumen terbesar komoditas yang digunakan dalam

BISNIS.COM, TOKYO—Harga karet berjangka di Tokyo turun untuk pertama kalinya dalam 3 hari setelah pertumbuhan manufaktur China berada di laju yang paling lambat dalam 4 bulan, negara tersebut adalah konsumen terbesar komoditas yang digunakan dalam ban.

Nilai kontrak untuk pengiriman Desember tergelincir sebanyak 1% menjadi 233,9 yen per kilogram (US$2.356 per ton) di Tokyo Commodity Exchange dan sebesar 234,8 pada 12.13 waktu setempat. Adapun nilai kontrak telah turun 14% pada kuartal terakhir, penurunan terbesar dalam setahun.

Biro Nasional Statistik dan Federasi Logistik dan Pembelian China mengatakan, Indeks Manajer Pembelian berada di level 50,1. Turun dari 50,8 pada Mei. Angka diatas 50 adalah sinyal adanya ekspansi.

Pertumbuhan yang lemah di bidang manufaktur menambah kemungkinan bahwa Li Keqiang akan menjadi perdana menteri pertama yang gagal mencapai target pertumbuhan tahunan sejak krisis keuangan Asia pada 1998.

Berdasarkan rerata estimasi analis dalam survei Bloomberg, ekspansi China mungkin melambat untuk kuartal kedua secara berturut-turut, setelah pertumbuhan ekspor runtuh dan Li mengekang pertumbuhan kredit yang mengandung risiko perbankan.

Sementara menurut The Rubber Economist, stok karet dunia mungkin akan menanjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade karena pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat membuat permintaan menurun.

Adapun harga karet untuk pengiriman Januari di Shanghai Futures Exchange naik 0,85 menjadi 17.875 yuan (US$2.916) per ton. Sementara menurut Institut Penelitian Karet Thailand, harga karet free on-board Thailand naik 0,9% menjadi 86,15 baht (US$2,78) per kilogram pada 28 Juni. (Bloomberg)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Giras Pasopati
Editor : Ismail Fahmi
Sumber : Newswire
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper