Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PERGERAKAN KOMODITAS: Larangan Ekspor Genjot Harga Nikel

TOKYO: Sebanyak 16 analis dalam survei Bloomberg memprediksi harga nikel akan menyentuh level US$20.000 per ton pada kuartal keempat imbas dari kebijakan pemerintah yang melarang ekspor sejumlah bijih logam.Indonesia, pemasok bijih nikel dan bauksit
Andhina Wulandari
Andhina Wulandari - Bisnis.com 31 Mei 2012  |  15:42 WIB

TOKYO: Sebanyak 16 analis dalam survei Bloomberg memprediksi harga nikel akan menyentuh level US$20.000 per ton pada kuartal keempat imbas dari kebijakan pemerintah yang melarang ekspor sejumlah bijih logam.Indonesia, pemasok bijih nikel dan bauksit terbesar ke China, akan melarang ekspor bijih yang belum diproses termasuk tembaga, bijih besi, emas dan mangan mulai 6 Mei.Tim analis Morgan Stanley memperkirakan kebijakan tersebut akan memangkas pasokan global sebesar 0,2% dari 4,9% pada 2012. Menurut mereka, pasokan nikel akan mencapai puncaknya pada tahun ini.Disisi lain, Barclays Plc mengatakan harga akan menguat menjelang akhir tahun didorong meningkatnya permintaan dari negara pembuat baja stainless, konsumen terbesar."Yang paling bullish untuk nikel dalam jangka pendek adalah dampak dari larangan tersebut pada ekspor di Indonesia," kata David Wilson, analis Citigroup Inc seperti dikutip dari Bloomberg.Harga nikel memperpanjang pelemahan pekan ini, turu 13% untuk tahun ini pada posisi US$16.305 di London Metal Exchange pukul 13.43 waktu Tokyo.Indeks LME atas enam logam industri turun 2,1% dan Indeks GSCI Standard & Poor dari 24 komoditas turun 6,6%.Morgan Stanley  dalam laporannya menyebutkan stok nikel akan berkontraksi menjadi 36.900 ton tahun depan dari 46.600 ton pada 2012. Analis tersebut memperkirakan konsumsi atas tambang tersebut akan mencapai rekor setiap tahunnya sampai 2017.Indonesia melarang ekspor untuk 21 jenis mineral yang belum diolah, kecuali bagi perusahaan yang berencana membangun kilang lokal.PT Aneka Tambang beberapa waktu lalu menyebutkan ekspor nasional bijih nikel bisa turun sebanyak 20% pada semester kedua.

Hal tersebut dapat diimbangi dengan pasokan tambahan dari tempat lain diantaranya  Anglo American Plc, dan Vale SA. Perusahaan asal Brasil tersebutakan menambahkan pasokan nikel sebesar 45 ribu ton tahun ini.

Para analis tersebut meneybutkan produksi nikel akan disuplai dari proyek-proyek di Australia, Kaledonia Baru, Madagaskar dan Filipina sebesar 72.000 ton.

"Harga harus bertahan di level ini untuk beberapa saat agar mendorong produsen untuk memotong produksi," kata Jim Lennon, analis Macquarie Group.

Menurut data LME, persedian nikel di bursa naik 28% menjadi 106,75 ribu ton sejak awal November. Jumlah ini terus meningkat akibat melambatnya ekspansi ekonomi.(mmh)

BERITA LAINNYA:

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top