Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pasar Nikel Global Diramal Defisit Tahun Ini Gara-gara Indonesia, Kenapa?

Persetujuan izin pertambangan yang lambat dari pemerintah Indonesia dinilai sebagai salah satu faktor munculnya risiko defisit nikel di pasar global.
Pekerja melakukan proses pencetakan feronikel di salah satu pabrik tambang milik Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara. - Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Pekerja melakukan proses pencetakan feronikel di salah satu pabrik tambang milik Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara. - Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Macquarie Group Ltd. meramalkan pasar nikel global berpotensi mengalami defisit tahun ini jika pertumbuhan produksi Indonesia terkendala oleh lambatnya persetujuan izin pertambangan

Analis Macquarie, Jim Lenon menyampaikan masalah utama pasar nikel adalah surplus kurang dari 40.000 ton. Hal ini dapat menjadi bahaya jika persetujuan pemerintah Indonesia lambat dan pertumbuhan setahun penuh dalam produksi lokal anjlok hingga 13%. 

"Ini adalah perubahan besar dari perkiraan kami baru-baru ini," tulis Lenon dalam risetnya, dikutip dari Bloomberg pada Minggu (3/3/2024). 

Sebagai informasi, harga acuan nikel anjlok 45% tahun lalu terdorong oleh pertumbuhan besar-besaran dalam pasokan dari negara Asia Tenggara.

Namun demikian, persetujuan perizinan di Indonesia tahun ini telah terlambat. Produsen pun mendorong pemerintah untuk berjanji akan menyelesaikan perizinan bulan ini.

Di luar Indonesia, stok nikel yang disimpan di China pada tahun lalu kemungkinan memiliki jumlah yang lebih sedikit dari perkiraan, karena peningkatan konsumsi yang lebih besar daripada yang diproyeksikan. 

Akibatnya, pasar tampaknya lebih dekat dengan ambang keseimbangan atau bahkan turun ke defisit daripada yang diperkirakan sebelumnya. 

Adapun, Macquarie mengatakan bijih nikel di Indonesia telah diperdagangkan dengan harga premium lebih dari US$7 per ton di atas harga jual minimum yang ditetapkan pemerintah. Perusahaan perbankan investasi tersebut memperkirakan hal ini akan menambah sekitar US$700 per ton pada biaya produksi di Indonesia. 

Hal ini akan memberikan bantuan yang signifikan bagi para penambang dan pabrik peleburan di tempat lain, dengan banyak pabrik peleburan yang akan ditutup karena produksi berbiaya rendah yang masif di Indonesia membuat mereka tidak kompetitif. 

Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator bidang Maritim dan Investasi Septian Hario Seto, yang telah mengawasi booming pengolahan nikel di Indonesia, mengatakan bahwa harga komoditas ini tidak mungkin naik jauh di atas US$18.000 per ton di London Metal Exchange (LME).

Harga nikel berjangka tiga bulan turun 1,7% menjadi US$17.585 per ton pada Jumat (1/3/2024) di LME di London, setelah naik 10% bulan lalu di tengah-tengah penundaan perizinan di Indonesia. Logam-logam lain naik, seperti tembaga dan aluminium justru naik 0,2%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper