Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Terus Alami Penurunan, Hari Ini Dibuka ke Rp15.532 per Dolar AS

Mata uang rupiah dibuka melemah ke level Rp15.532 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/1/2024) saat indeks dolar menguat.
Ilustrasi utang pemerintah Indonesia dalam mata uang rupiah dan dolar AS. JIBI/Himawan L Nugraha. rn
Ilustrasi utang pemerintah Indonesia dalam mata uang rupiah dan dolar AS. JIBI/Himawan L Nugraha. rn

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang rupiah dibuka melemah ke level Rp15.532 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/1/2024) saat indeks dolar menguat. 

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,33% atau 51 poin ke posisi Rp15.532 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terpantau naik 0,05% ke level 102,215. 

Sejumlah mata uang kawasan Asia lainnya bergerak bervariasi di hadapan dolar AS. Yen Jepang terpantau melemah 0,08%, dolar Singapura turun 0,03%, dolar Taiwan melemah 0,29%, won Korea melemah 0,37%, ringgit Malaysia melemah 0,19%. 

Kemudian dolar Hong Kong melemah 0,03%, peso Filipina turun 0,15%, dan yuan China melemah 0,08%. Hanya rupee India yang naik 0,04% dan bath Thailand menguat 0,02%. 

Sebelumnya, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp15.460- Rp15.540 per dolar AS

Ibrahim menjelaskan meskipun The Fed memberi isyarat pada bulan Desember bahwa mereka akan mulai memangkas suku bunga pada tahun 2024, namun mereka hanya memberikan sedikit petunjuk mengenai waktu tindakan tersebut. 

“Pejabat Fed juga memperingatkan setelah pertemuan tersebut bahwa pertaruhan penurunan suku bunga lebih awal tidak berdasar, mengingat inflasi dan pasar tenaga kerja masih berjalan relatif panas,” kata Ibrahim dalam riset harian, Kamis (4/1/2024). 

Data nonfarm payrolls untuk bulan Desember akan dirilis pada hari Jumat ini, dan juga diperkirakan akan memberikan lebih banyak petunjuk mengenai lapangan kerja. Meskipun angka tersebut diperkirakan akan menunjukkan penurunan yang lebih besar di pasar tenaga kerja, angka tersebut juga secara konsisten melampaui ekspektasi sepanjang tahun 2023. 

Ibrahim juga menjelaskan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis oleh S&P Global, pada bulan Desember berada di posisi 52,2 atau naik 0,5 poin dibanding bulan November yang menempati level 51,7. PMI Manufaktur Indonesia tetap berada dalam fase ekspansi selama 28 bulan berturut-turut. 

Capaian ini hanya Indonesia dan India yang mampu mempertahankan level di atas 50 poin selama lebih dari 25 bulan. Kondisi sektor manufaktur di Indonesia terus membaik lantaran juga didukung dari beragam kebijakan strategis pemerintah yang telah berjalan secara on the right track

Namun, ada kebijakan yang belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan sektor industri, antara lain penerapan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Masih banyak perusahaan industri yang belum menerima manfaat harga gas USD 6 per MMBTU.

Tak hanya itu, dalam pelaksanaannya masih banyak sektor industri yang memperoleh volume gas lebih rendah atau tidak sesuai dengan jumlah yang sudah menjadi kontrak antara industri dan pihak penyedia.

Sedangkan dalam laporannya, S&P Global menyatakan, ekspansi PMI Manufaktur Indonesia pada bulan terakhir 2023 karena adanya permintaan yang cukup tinggi, termasuk dari luar negeri. Ini mendorong pertumbuhan produksi lebih cepat dan penambahan jumlah tenaga kerja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper