Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham Emiten Konglomerat RI dan IHSG setelah BI Kerek Suku Bunga

IHSG menguat ke 6.854,38 hari ini ini di tengah saham konglomerat yang bervariasi menyusul keputusan BI menaikkan suku bunga.
IHSG menguat ke 6.854,38 hari ini ini di tengah saham konglomerat yang bervariasi menyusul keputusan BI menaikkan suku bunga. Bisnis/Arief Hermawan P
IHSG menguat ke 6.854,38 hari ini ini di tengah saham konglomerat yang bervariasi menyusul keputusan BI menaikkan suku bunga. Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat ke 6.854,38 pada penutupan sesi I perdagangan hari ini, Jumat (20/10/2023) di tengah saham konglomerat yang bervariasi.

IHSG mulai merangkak naik setelah sebelumnya terkoreksi 0,36% atau 24 poin menuju level 6.818 pada pembukaan perdagangan hari ini. Pada sesi I, IHSG naik 0,12% ke level 6.854,38.

Tertekannya IHSG ke kisaran 6.800 terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mengerek suku bunga acuan atau BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) ke  posisi 6%. 

Sentimen negatif kenaikan suku bunga acuan ke level 6% pun tak terkecuali juga dialami oleh saham emiten konglomerat Tanah Air. Emiten produsen mie instan Indomie milik Anthoni Salim, misalnya, yang sahamnya terkoreksi 1,11% atau turun 75 poin ke level Rp6.675 per lembar saham. 

Hal serupa juga dialami oleh emiten sawit milik grup Salim, PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) yang melemah 0,52% atau 382 poin menuju posisi Rp382 per lembar saham. Diikuti oleh PT Indomobil Multi Jasa Tbk. (IMJS) yang sahamnya turun 0,64% atau 312 poin ke Rp312. 

Emiten produsen komponen dan distributor mobil milik Grup Salim PT Indomobil Sukses Internasional Tbk. (IMAS) yang anjlok ke posisi Rp1.425 pada akhir sesi I perdagangan hari ini. 

Nasib berbeda justru dialami oleh emiten konsumer milik Grup Salim, yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) yang melesat 2,64% menuju posisi Rp10.700 per lembar saham. 

Beralih ke PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) milik orang terkaya nomor wahid Indonesia Low Tuck Kwong,  saham BYAN juga tercatat merosot ke Rp19.525 per lembar saham atau turun sekitar 2,01% dari posisi sebelumnya. Sepanjang perdagangan sesi I, saham BYAN bergerak di rentang Rp19.300 hingga Rp19.900. 

Langkah BI yang akhirnya memilih untuk menaikkan suku bunga acuan akibat terus terdepresiasinya rupiah terhadap dolar AS juga memengaruhi pergerakan saham emiten taipan RI Prajogo Pangestu. 

Emiten anyar Prajogo Pangestu PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang sebelumnya terus mencatat kinerja positif, kini harus ditutup melemah ke Rp4.000 pada akhir sesi I perdagangan. 

Saham BREN turun sekitar 1,23% atau 50 dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya. 

Senasib dengan BREN, emiten petrokimia PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) juga terpantau melemah 1,93% atau 20 poin menuju ke Rp1.015 per saham. Emiten milik salah satu orang terkaya RI itu bahkan tercatat masuk ke deretan saham paling boncos sepanjang perdagangan sesi I. 

Selanjutnya adalah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) yang parkir di Rp2.600 per lembar saham atau melemah 1,14% dari posisi sebelumnya. 

Adapun, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) menjadi satu-satunya emiten Prajogo Pangestu yang sahamnya melesat di tengah sentimen kenaikan suku bunga BI. Saham CUAN menguat 2,48% atau 70 poin menuju ke Rp2.890 per lembar saham. 

Kabar baik juga datang dari emiten bank milik Hartono Bersaudara, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang harga sahamnya menguat 3,14% atau 275 poin ke posisi Rp9.025 per saham. BBCA bahkan menjadi saham kedua yang paling banyak diburu oleh investor sepanjang sesi I perdagangan. 

Pada sesi I perdagangan, sebanyak 43,3 juta saham BBCA telah diperdagangkan dengan nilai transaksi yang menembus ke Rp386 miliar. 

Sayangnya, emiten-emiten lain dari Grup Djarum juga harus merasakan efek buruk dari kenaikan suku bunga BI. PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR), contohnya, yang melemah tipis 0,56% ke posisi Rp895. 

Sementara saham PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) terpantau tak bergerak di posisi Rp452 per lembar saham. 

Emiten lain yang berhasil menguat di tengah sentimen kenaikan suku bunga adalah PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) milik taipan Tanah Air Susilo Wonowidjojo. Saham perusahaan rokok terbesar di Indonesia itu merangkak naik 0,10% atau 25 poin ke level Rp24.725 per saham hingga akhir sesi I perdagangan hari ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper