Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bursa Catat Rekor Kuantitas Saham IPO, Bagaimana Kualitasnya?

BEI berhasil memecahkan rekor untuk kuantitas emiten IPO. Namun pengamat pasar modal menyebut banyaknya emiten baru tidak diiringi dengan kualitas yang baik.
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHS) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHS) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil memecahkan rekor sejarah untuk kuantitas emiten IPO sebesar 68 perusahaan. Namun beberapa pengamat pasar modal menyebut banyaknya emiten baru tidak diiringi dengan kualitas yang baik.

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama Teguh Hidayat mengatakan salah satu pekerjaan rumah untuk Bursa Efek adalah terkait kualitas calon-calon emiten yang akan IPO. Kualitas yang tidak baik justru membuat investor enggan untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

“IHSG tidak kemana-mana, saham IPO turun bikin pasar jadi sepi. Orang sudah enggan untuk investasi saham di sini. Bagaimana pasar modal mau maju kalau jumlah investor publik tidak tumbuh?” katanya menjawab pertanyaan Bisnis, Jumat (6/10/2023).

Minat investor yang rendah dapat dilihat dari RNTH bursa saat ini, kata Teguh. RNTH Bursa berada di level Rp10,50 triliun sepanjang tahun berjalan, atau di bawah target RNTH BEI sebesar Rp14,75 triliun hingga akhir 2023.

Senada Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy juga mengatakan Bursa perlu memperhatikan perlindungan investor retail dibandingkan dengan kuantitas emiten IPO. Beberapa investor retail yang FOMO banyak terjebak di saham IPO yang bahkan anjlok puluhan persen sesaat setelah resmi melantai.

“Sudah waktunya Bursa tidak mengejar kuantitas tetapi kualitas,” jelasnya.

Sebagai informasi, jumlah pencatatan ini melampaui rekor pencatatan saham perdana sebelumnya yang terjadi pada tahun 1990 sebanyak 66 pencatatan saham perdana. Pencatatan saham perdana pada hari ini menambah jumlah perusahaan tercatat saham menjadi 892.

Dari 68 pencatatan saham baru pada 2023 ini, sebanyak 86,7 persen perusahaan tercatat berasal dari Pulau Jawa bagian barat, yaitu 42 perusahaan berlokasi di DKI Jakarta, yang kemudian diikuti oleh Banten sejumlah 9 perusahaan, dan Jawa Barat sejumlah 8 perusahaan

Teguh Hidayat mengimbau investor harus kembali memperhatikan fundamental calon emiten. Investor dapat membaca prospektus yang disediakan di situs e-IPO. Segmen yang perlu diperhatikan adalah laporan keuangan. 

“Jika memang sudah rugi [laporan keuangan], ya sudah tidak usah dibeli. Jangan FOMO, ikutan pompom,” imbuh Teguh. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Artha Adventy
Editor : Ibad Durrohman
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper