Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kala Pasar Bertaruh Harga Minyak Dunia Menuju US$100 per Barel

Para analis yang optimistis berpendapat, meskipun harga minyak mentah saat ini berada pada level US$90-an, banyak dana masih kurang diinvestasikan pada minyak.
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California/ Bloomberg - David Paul Morris
Tempat penyimpanan minyak di Pelabuhan Richmond in Richmond, California/ Bloomberg - David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah di pasar global yang terus melonjak membuat para analis dan trader bertaruh mengenai kapan harga tersebut menembus level US$100 per barel.

Pasokan minyak dari Timur Tengah, Azerbaijan bahkan Rusia mendapat harga tertinggi karena para perusahaan penyuling berusaha keras untuk memproduksi solar dalam jumlah yang cukup menjelang peningkatan permintaan musiman.

Mengutip Bloomberg, Selasa (19/9/2023), para analis yang optimistis berpendapat bahwa meskipun harga minyak mentah saat ini berada pada pertengahan US$90-an, banyak dana investor masih kurang diinvestasikan pada minyak, sehingga menciptakan potensi harga lebih tinggi pada masa depan.

Kepala eksekutif Chevron Corporation Mike Wirth memprediksi harga minyak bisa mencapai US$100 per barel dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg Television.

Saat ini patokan harga minyak Brent telah meningkat lebih dari 30 persen sejak titik terendahnya pada Maret 2023.

Pengurangan produksi yang dilakukan oleh Arab Saudi dan Rusia terus memperketat pasokan pada saat konsumsi melonjak ke rekor tertinggi. Hal ini menggerogoti persediaan dan memaksa penyulingan untuk mengambil barel demi menghasilkan jenis bahan bakar yang tepat dalam jumlah yang cukup.

“Fundamentalnya sangat, sangat kuat saat ini. Pada titik ini, kondisi tersebut adalah hal jangka pendek. Saya tidak mengatakan rata-ratanya akan di atas US$100, tapi bisakah sedikit naik ke US$100? Pastinya ya,” kata Dr Amrita Sen, kepala penelitian di konsultan Energy Aspects.

Kekuatan lonjakan harga ini dipimpin oleh pasar fisik, di mana para pedagang membeli minyak dari produsen dan menjualnya ke kilang untuk segera dikirim.

Salah satu contoh yang paling jelas adalah minyak mentah Azeri Light andalan Azerbaijan, yang diperdagangkan mendekati US$100 per barel pada Jumat pekan lalu karena keuntungan yang besar dari mengubah minyak mentah menjadi diesel. Ini berarti para pengolah harus membayar mahal untuk kualitas yang menghasilkan banyak bahan bakar.

Margin yang sama juga membuat harga minyak Rusia kembali berada di atas harga acuannya di pasar Asia. Sebelumnya, harga minyak Rusia sering kali didiskon setelah invasi negara tersebut ke Ukraina.

Dengan latar belakang tersebut, bahkan beberapa analis pasar yang paling bearish pun mulai mengakui bahwa harga US$100 tampaknya lebih mungkin terjadi, terutama mengingat risiko politik yang sudah berlangsung lama di negara-negara produsen seperti Libya dan Nigeria.

“Geopolitik, di samping perdagangan teknis, dapat mendorong harga minyak melampaui US$100 untuk sementara waktu. “Namun, kami terus melihat pelonggaran progresif akan terjadi,” tulis analis Citigroup pada Senin (18/9/2023).

Sebagian dari penurunan tersebut, menurut Citi, akan didorong oleh pertumbuhan pasokan dari luar aliansi OPEC+. Laporan tersebut merujuk negara-negara. termasuk Amerika Serikat, Guyana dan Brasil, yang semuanya dapat menambah pasokan barel ke pasar dalam beberapa bulan mendatang dan menggagalkan ketatnya pasokan saat ini.

Namun, untuk saat ini, pendapatan di negara-negara produsen minyak sedang melonjak.

Pada Jumat pekan lalu, minyak Murban dari Uni Emirat Arab diperdagangkan pada level terkuat sejak Februari 2023 dan naik lebih lanjut pada hari Senin.

Harga per barel dari Qatar hingga Afrika Barat juga melonjak, dan kualitas unggulan Arab Saudi mendekati US$100.

Lonjakan tersebut mengalihkan fokus pada permintaan dan dampaknya terhadap negara-negara konsumen.

Reserve Bank of India mengatakan pada Senin bahwa harga minyak mentah di atas US$90 per barel menimbulkan risiko baru terhadap stabilitas keuangan global.

Meskipun Brent belum mencapai level tiga digit pada tahun 2023, bahan bakar olahan seperti bensin dan solar telah diperdagangkan di atas level tersebut selama berbulan-bulan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper