Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Dana Asing Deras ke Pasar Modal Indonesia, Tren Saham dan SBN Menguat?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,75 persen pada kuartal III/2022 ikut mendorong aliran dana asing ke pasar modal dalam negeri.
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra - Bisnis.com 13 November 2022  |  19:52 WIB
Dana Asing Deras ke Pasar Modal Indonesia, Tren Saham dan SBN Menguat?
Karyawan melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Masuknya aliran dana asing hingga Rp3,97 triliun ke pasar modal Indonesia jelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali disebut akan membuat pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN) dalam tren penguatan. Aliran dana asing juga dinilai mencerminkan kondisi perekonomian global yang tengah pulih sehingga akan berpengaruh terhadap pergerakan rupiah.

Direktur Segara Institute Piter Abdullah Redjalam mengatakan aliran dana asing sangat dipengaruhi oleh perkiraan kondisi perekonomian global dan juga arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat alias the Fed. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2022 di sejumlah negara membantu investor dalam memprediksi kondisi perekonomian global dan Indonesia.

Selain itu, kondisi perekonomian AS yang dianggap sudah melewati titik tertingginya, juga berdampak positif terhadap rasa percaya diri investor. Hal ini membentuk keyakinan bahwa the Fed akan segera mengakhiri kebijakan agresifnya dalam menaikkan suku bunga.

"Sementara di sisi lain, fakta bahwa Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi 5,72 persen juga ikut berkontribusi terhadap persepsi positif investor. Saya kira semua ini berpengaruh terhadap pergerakan rupiah," ujar Piter kepada Bisnis.com, Minggu (13/11/2022).

Lebih lanjut, Piter mengatakan faktor-faktor tersebut memberi keyakinan para investor untuk mulai melakukan akumulasi aset-aset berisiko. Hal ini tidak terkecuali untuk saham dan SBN yang dianggap cukup murah dengan imbal balik cukup besar. Sementara itu adanya potensi risiko juga dinilai sudah menurun.

Meski demikian, investor disebut baru melakukan akumulasi awal dan masih menunggu kondisi lebih stabil. Pasar saham dan SBN disebut masih akan bergerak secara volatile dengan adanya tren penguatan.

Bank Indonesia (BI) melaporkan dana asing senilai Rp3,97 triliun telah masuk ke pasar modal Indonesia dalam kurun 7–10 November 2022, sepekan menjelang KTT G20 di Bali. Data BI menunjukkan nonresiden atau asing membukukan beli bersih (net buy) Rp4,07 triliun di pasar surat berharga negara (SBN) dan jual bersih (net sell) Rp100 miliar di pasar saham selama periode tersebut.

“Selama 2022, berdasarkan data setelmen sampai 10 November 2022, nonresiden jual neto Rp173,11 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp78,39 triliun di pasar saham,” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono dalam siaran pers, dikutip Minggu (13/11/2022).

Masuknya aliran dana asing tersebut turut memicu penguatan rupiah ke level Rp15.493, Jumat (11/11/2022) berdasarkan kurs JISDOR BI. Sementara rupiah pada pekan lalu berada di level Rp15.736.

Erwin melanjutkan rupiah dibuka pada level Rp15.540 per dolar AS pada Jumat (11/11/2022), sedangkan yield SBN 10 tahun melanjutkan penurunan ke level 7,07 persen.

“BI akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait dan mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut,” kata Erwin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

KTT G20 dana asing pasar saham surat berharga negara sbn
Editor : Reni Lestari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top