Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Melemah Rp15.266 per Dolar AS, Masyarakat Perlu Khawatir?

Kenaikan dolar AS yang tanpa henti membuat mayoritas mata uang di Asia terpukul, termasuk rupiah hari ini.
Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Pegawai menunjukan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat di Dolar Asia Money Changer, Jakarta, Senin (18/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada tengah pekan ini, Rabu (28/9/2022). Rupiah melemah bersama beberapa mata uang lain di kawasan Asia.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,94 persen atau 142,5 poin sehingga parkir di posisi Rp15.266,50 per dolar AS. Indeks dolar AS pada pukul 15.10 WIB terpantau menguat 0,19 poin atau 0,17 persen ke level 114,30.

Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia terpantau sebagian besar melemah di hadapan dolar AS. Mata uang won Korea melemah 1,27 persen, yuan China melemah 0,90 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,34 persen terhadap dolar AS.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, mata uang dolar naik ke puncak tertinggi baru dalam dua dekade ini pada Rabu (28/9/2022) karena kenaikan suku bunga global yang memicu kekhawatiran resesi. Sementara itu, poundsterling mendekam di dekat posisi terendah sepanjang masa di tengah kekhawatiran atas pemotongan pajak radikal di Inggris.

"Kenaikan dolar tanpa henti terjadi karena benchmark imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik menjadi 4 persen untuk pertama kalinya sejak 2010, mencapai 4,004 persen. Imbal hasil dua tahun mencapai 4,2891 persen," kata Ibrahimdalam risetnya, Rabu (28/9/2022).

Sebagaimana diketahui, The Federal Reserve mengambil langkah yang lebih agresif menghadapi inflasi dengan memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Pesan itu diperkuat semalam oleh Presiden Fed Chicago Charles Evans, Presiden Fed St. Louis James Bullard dan Presiden Bank Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari, dengan Evans mengatakan bahwa bank sentral perlu menaikkan suku bunga ke kisaran antara 4,50 persen dan 4,75 persen.

Sementara itu dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus melakukan pengawasan secara ketat dan terus melakukan intervensi di pasar valas dan Obligasi melalui perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) sehingga bisa mengendalikan pelemahan mata uang garuda yang tajam.

Selain itu, pemerintah juga terus melakukan intervensi dengan mensubsidi barang-barang konsumsi, Bansos dan BLT, walaupun secara ekonomis belum bisa membantu secara signifikan.

"Sudah waktunya Presiden Joko Widodo beserta tim ekonominya memberikan pengarahan dan solusi secara live di Televisi berupa stimulus, guna untuk menenangkan pasar sehingga pelemahan rupiah bisa dikendalikan," ucapnya.

Adapun untuk perdagangan besok, Kamis (29/9/2022), Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi ditutup melemah di rentang Rp15.250-Rp15.310.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper