Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Simak Strategi Emiten Grup Sinarmas (SMAR) Hadapi Koreksi Harga CPO

Kinerja produsen minyak goreng Filma (SMAR) ke depannya akan tetap ditopang baik oleh lini bisnis hulu atau kebun, maupun bisnis hilir.
Produk minyak goreng dengan merek dagang filma. Minyak goreng merupakan salah satu produk dari PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk./smart-tbk.com
Produk minyak goreng dengan merek dagang filma. Minyak goreng merupakan salah satu produk dari PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk./smart-tbk.com

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten perkebunan Grup Sinarmas, PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbk. (SMAR) terus memantau tren perkembangan harga CPO dan tetap fokus dalam penjualan produk dengan nilai tambah untuk menjaga kinerjanya.

Pinta S. Chandra, Investor Relations SMAR memaparkan, kinerja perusahaan bergantung pada pergerakan harga pasar CPO internasional yang dipengaruhi oleh perkembangan pasokan dan permintaan global CPO dan minyak nabati lainnya serta harga minyak mentah dunia.

Menurut Pinta, sebagai produk komoditas, SMAR selalu memonitor faktor-faktor tersebut termasuk kondisi cuaca maupun kebijakan perdagangan baik di negara konsumen maupun produsen.

“Setelah mencapai rekor harga tertingginya pada beberapa bulan yang lalu, harga pasar CPO mulai normal kembali dan diharapkan dapat meningkatkan konsumsi global dengan harga yang lebih terjangkau,” katanya saat dihubungi Bisnis, Rabu (28/9/2022).

Ia melanjutkan kinerja perseroan ke depannya akan tetap ditopang baik oleh lini bisnis hulu atau kebun, maupun bisnis hilir. Perseroan akan melanjutkan strategi jangka panjangnya, yaitu penjualan produk-produk berbasis kelapa sawit yang bernilai tambah dengan portofolio luas.

“Hal ini guna memenuhi kebutuhan pelanggan akan produk yang lebih sehat dan diproduksi secara berkelanjutan,” kata Pinta

Pinta menambahkan, SMAR juga akan fokus melakukan program peremajaan kebun serta peningkatan produktivitas dan efisiensi melalui mekanisasi dan otomatisasi.

Sebelumnya, Komisaris Utama PT HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, koreksi harga CPO hingga ke bawah level 3.500 ringgit per ton disebabkan oleh pasar yang terbebani oleh sentimen peningkatan produksi.

"Sementara itu, permintaan di pasar nabati juga tengah menurun karena perlambatan ekonomi global," jelasnya.

Sutopo memprediksi, koreksi harga CPO masih akan terjadi pada sisa tahun ini. Prospek harga CPO dibebani oleh musim panen yang akan berimbas pada kenaikan produksi. Di sisi lain, tingkat permintaan belum terlihat akan pulih akibat potensi resesi global.

Seiring dengan hal tersebut, Sutopo memprediksi harga CPO dapat terkoreksi hingga ke level 3.000 ringgit per ton.

"Kami proyeksi range harga CPO hingga akhir 2022 pada 3.000 hingga 4.000 ringgit per ton," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper