Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Penjualan Meroket, Laba Sawit Sumbermas (SSMS) Terbang

Penjualan SSMS tumbuh 43 persen yoy pada semester I/2022. Labanya pun terbang 62 persen.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 31 Agustus 2022  |  09:30 WIB
Penjualan Meroket, Laba Sawit Sumbermas (SSMS) Terbang
Petani membawa kelapa sawit hasil panen harian di kawasan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu (11/5). Bisnis - Nurul Hidayat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten perkebunan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) mencatatkan kinerja positif pada semester I/2022. Kenaikan penjualan dan produksi CPO menjadi pendorong performa positif perseroan.

Berdasarkan keterangan resmi perusahaan pada Rabu (31/8/2022), SSMS membukukan laba bersih senilai Rp1,02 triliun sepanjang 6 bulan pertama tahun 2022. Angka tersebut melonjak 45,86 persen dari enam bulan pertama tahun 2021 yang sebesar Rp700 miliar.

Sementara itu, pendapatan SSMS per 30 Juni 2022 senilai Rp3,351 triliun naik 43,34 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp2,338 triliun.

Salah satu faktor pertumbuhan laba adalah kenaikan harga komoditas, ditunjang juga produksi yang meningkat. Hal itu turut berimbas pada penjualan perseroan yang meningkat sebanyak 43 persen senilai Rp3,35 triliun dibanding Rp2,33 triliun di 2021.

Beban pokok pendapatan SSMS tercatat naik tipis 6,37 persen menjadi Rp1,408 triliun dari sebelumnya Rp1,32 triliun. Seiring dengan hal tersebut, laba usaha SSMS tercatat naik 118,71 persen menjadi Rp1,48 triliun dari Rp679 miliar pada semester I/2021.

Sehingga, laba sebelum pajak tercatat Rp1,36 triliun atau naik 62,39 persen dari sebelumnya Rp839 miliar. Dengan pencapaian itu maka laba per saham dasar naik jadi Rp106,63 dari periode sama tahun sebelumnya Rp73,11 per saham.

CFO SSMS Jap Hartono mengatakan, kenaikan penjualan Rp1.02 triliun disebabkan kenaikan harga jual CPO, PK, dan CPKO selama periode Januari hingga April 2022.

“Tetapi tantangan kami terpaku pada periode bulan Mei hingga Juni 2022, terjadinya tren penurunan harga dan permintaan CPO, hal ini disebabkan oleh adanya peraturan DMO [Domestic Market Obligation] yang diberlakukan oleh pemerintah,” jelasnya.

Selanjutnya, SSMS memiliki total aset Rp14,23 triliun per 30 Juni 2022, naik 2,79 persen dari sebelumnya Rp13,85 triliun di akhir Desember 2021. Pos liabilitas terpantau naik 2,06 persen jadi Rp7,90 triliun dari Rp7,74 triliun, sementara ekuitas naik 3,72 persen jadi Rp6,33 triliun dari Rp6,10 triliun.

Dari sisi produksi, CPO SSMS juga mengalami pertumbuhan 16,54 persen. Tercatat sampai bulan Juni 2022 menjadi 269,413 ton dari 231,171 ton tahun 2021. Dengan capaian OER inti sebesar 23,3 persen dari 22,6 persen periode sama tahun 2021. Peningkatan produksi CPO didukung oleh meningkatnya TBS inti sebanyak 963,308 ton dari 825,809 ton tahun lalu, atau sebesar 16,65 persen.

Nasarudin Bin Nasir, CEO SSMS menyatakan, secara keseluruhan kinerja paruh pertama Perseroan tahun ini sudah sangat baik. Pihaknya optimistis kinerja perusahaan akan lebih meningkat pada semester II/2022.

Ia memaparkan, walaupun harga CPO masih akan fluktuatif, dari segi produksi dan penjualan SSMS berupaya meningkatkan kinerjanya. Perkebunan SSMS memiliki tanaman dengan rata-rata usia 13 tahun, yang tergolong muda dari usia pohon kelapa sawit perkebunan lainnya pada kisaran 16 - 18 tahun.

“Perseroan memandang bahwa masih akan terus mencatat pertumbuhan produksi yang kuat ke depannya, didorong oleh tanaman yang sangat prima dan hasil TBS dengan kualitas terbaik,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sawit sumbermas sarana SSMS cpo emiten perkebunan korporasi
Editor : Herdanang Ahmad Fauzan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top