Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Reli Sepekan, Ini Saatnya Investor Reksa Dana Profit Taking

Investor dapat melakukan aksi profit taking di tengah kenaikan harga dan tetap menjaga porsi kas di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif.
Warga mengakses informasi tentang reksa dana di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha
Warga mengakses informasi tentang reksa dana di Jakarta, Rabu (6/7/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang cenderung naik selama sepekan terakhir memberikan sinyal positif untuk prospek kinerja reksa dana saham. Investor dapat memanfaatkan momentum ini untuk melakukan aksi profit taking.

Laporan dari Infovesta Utama pada Senin (22/8/2022) menyebutkan, kinerja reksa dana saham selama periode 12–19 Agustus terpantau turun 0,36 persen, sementara itu reksa dana campuran juga tercatat menurun 0,29 persen.

Meski demikian, kinerja reksa dana saham dan campuran secara tahun berjalan masih terpantau positif. Reksa dana saham terpantau membukukan return sebesar 2,27 persen, sementara reksa dana campuran tercatat memberikan return 4,21 persen.

Infovesta menyebutkan, kinerja reksa dana berbanding terbalik dengan kenaikan IHSG dalam sepekan terakhir yang menguat 0,61 persen atau ditutup di level 7.172,43. Menguatnya kinerja IHSG diikuti dengan net buy investor asing sebesar Rp2,99 triliun.

Faktor utama penggerak IHSG adalah rilis data neraca pembayaran Indonesia yang surplus sebesar US$ 2,4 miliar pada kuartal II/2022 yang mengindikasikan kinerja ekspor yang terus membaik. Surplus tersebut didukung oleh peningkatan surplus neraca perdagangan non migas seiring dengan harga komoditas global yang tetap tinggi.

Faktor lainnya adalah keputusan Bank Indonesia (BI) yang berencana belum menaikkan suku bunga acuan. Hal tersebut diungkapkan dalam keterangannya di konferensi Pers terkait Pembukaan Rakornas Pengendalian Inflasi Tahun 2022.

“Sehingga dalam Rapat Dewan Gubernur BI pekan ini kemungkinan suku bunga masih tetap di level 3,5 persen karena inflasi inti yang tercatat masih relatif rendah. Hal ini mendorong optimisme investor terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil ditengah kondisi global yang sedang tidak kondusif,” jelasnya.

Sementara itu, sentimen global yang saat ini diperhatikan oleh pasar adalah risalah the Fed yang mengindikasikan akan terus menaikkan suku bunga sampai inflasi melambat secara signifikan atau menyentuh target yang ditetapkan, serta inflasi yang tinggi yang dapat menyebabkan perlambatan ekonomi dunia.

Seiring dengan hal tersebut, Infovesta melihat kinerja reksa dana saham masih berada dalam tren bullish. Hal ini didukung oleh rilis data perekonomian Indonesia yang tetap terjaga.

“Investor dapat melakukan aksi profit taking di tengah kenaikan harga dan tetap menjaga porsi kas di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper