Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Permintaan dari Eropa Meningkat, Bumi Resouces (BUMI) "Ngos-ngosan" Genjot Produksi

Saat ini, Bumi Resources (BUMI) masih berupaya melakukan normalisasi produksi setelah musim La Nina mereda.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 21 Juni 2022  |  15:20 WIB
Permintaan dari Eropa Meningkat, Bumi Resouces (BUMI) "Ngos-ngosan" Genjot Produksi
Operasional tambang batu bara kelompok usaha Bumi Resources. - bumiresources.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Rusia memutuskan bakal mengehentikan ekspor batu bara sepenuhnya ke Eropa, membuat permintaan batu bara termasuk ke Indonesia melonjak, imbas perang Rusia dan Ukraina.

PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) menjadi salah satu yang mendapatkan permintaan dari Eropa. Sayangnya, perseroan belum bisa memenuhi permintaan ini.

Direktur Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan tantangan yang dihadapi perseroan saat ini masih terpusat di normalisasi produksi setelah musim La Nina mereda. BUMI menargetkan level produksi akan kembali normal pada bulan depan.

Dileep mengatakan telah menerima pertanyaan dari negara-negara Uni Eropa tetapi kemampuan untuk melayani mereka terbatas oleh ketersediaan untuk saat ini, karena cuaca buruk yang mempengaruhi hasil.

"Permintaan meningkat dari berbagai negara di Eropa karena kekhawatiran ketidakpastian pasokan di masa depan karena situasi Ukraina. Eropa telah bergantung pada bahan bakar fosil Rusia di masa lalu," kata Dileep Srivastava, Direktur BUMI kepada Bisnis, Selasa (21/6/2022).

Ia melanjutkan, prioritas BUMI saat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan DMO dan PLN, setelah itu baru memenuhi backlog layanan terhadap kontrak yang masih ada.

“Setelah output normal semoga mulai bulan depan kami dapat mengejar pasar baru untuk bahan yang kami produksi, termasuk Uni Eropa, dengan harga internasional yang berlaku," jelas Dileep.

Situasi ini menurutnya akan memiliki dampak yang bertahan lama karena Uni Eropa melakukan diversifikasi untuk mengamankan pasokan energi dan mencari alternatif dari Rusia.

Namun, energi terbarukan tidak mampu menggantikan batu bara. Sementara, harga LNG dan gas menjadi semakin tidak terjangkau. Di sisi lain, pendanaan untuk meningkatkan kapasitas batu bara makin berat karena tujuan pemerintah seluruh dunia ingin menuju transisi energi.

Seperti diketahui, Jerman menambah permintaan dari Indonesia sejumlah 150 juta ton. Bahkan, pemerintah akan merevisi rencana kerja dan anggaran belanja atau RKAB perusahaan batu bara untuk dapat memenuhi permintaan tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara bumi resources bumi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top