Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Malaysia Larang Ekspor Ayam, Emiten Unggas Indonesia Bisa Berkokok?

Pelarangan ekspor ayam oleh Malaysia menjadi peluang bagi emiten unggas Indonesia mencaplok pangsa pasar ekspor yang tersedia.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 12 Juni 2022  |  19:40 WIB
Malaysia Larang Ekspor Ayam, Emiten Unggas Indonesia Bisa Berkokok?
Penghentian ekspor ayam okeh Malaysia jadi peluang bagi emiten unggas Indonesia - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kebijakan pemerintah Malaysia untuk menghentikan ekspor ayam dinilai bisa jadi peluang bagi emiten unggas Indonesia untuk mengisi pasar yang ditinggalkan negara tetangga. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Victor Stefano dalam risetnya yang dikutip Minggu (12/6/2022) mengatakan ekspor bisa menjadi alternatif bagi emiten unggas dalam menyeimbangkan pasokan yang acap kali menghadapi masalah oversupply, alih-alih menerapkan pengurangan populasi melalui culling.

“Untuk menghindari oversupply tanpa pemusnahan populasi, ekspor perlu dilakukan. Secara historis Indonesia memang kesulitan dalam mengekspor ayam karena harga yang kurang bersaing, tetapi kami melihat gap harga makin kecil dan harga ayam Indonesia makin kompetitif,” kata Victor.

Sebagai contoh, harga ayam Brasil memperlihatkan tren kenaikan sejak Februari 2022 akibat meningkatnya permintaan dan biaya produksi. Di sisi lain, Indonesia yang mengandalkan sebagian bahan baku pakan dari dalam negeri tidak mengalami tren kenaikan setinggi Brasil karena pasokan jagung cenderung masih memadai.

Meskipun demikian, Victor mencatat bahwa Indonesia belum memiliki rekam jejak yang panjang dalam mengekspor ayam hidup maupun beku jika dibandingkan dengan eksportir lain. Di sisi lain, mayoritas ayam broiler yang diproduksi di dalam negeri memiliki ukuran yang lebih kecil karena preferensi pasar domestik.

“Untuk pasar Singapura, meski mereka memiliki alternatif pemasok seperti Brasil dan Amerika Serikat, perlu dicatat bahwa proses pengapalan memerlukan waktu 1-2 bulan untuk memenuhi kebutuhan. Indonesia bisa memanfaatkan peluang sebagai negara tetangga, tetapi pasar Singapura lebih memilih ayam segar atau chilled,” lanjutnya.

Dia juga menyebutkan bahwa Indonesia harus menghadapi dominasi Thailand yang merupakan eksportir daging ayam broiler terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Amerika Serikat, dan Uni Eropa. Selain jarak yang lebih dekat dan harga yang lebih bersaing, Thailand juga telah membangun jejaring perdagangan ayam dengan para importir di Singapura.

Dari dalam negeri, porsi penjualan ekspor para emiten unggas tercatat masih kecil. Sebagai contoh, nilai ekspor PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) pada kuartal I/2022 bernilai Rp183,52 miliar atau hanya 1,50 persen dari total penjualan sebesar Rp12,15 triliun.

Kondisi serupa juga terlihat dari performa penjualan luar negeri PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang hanya mencapai Rp10,10 miliar sepanjang kuartal I/2022 atau hanya 0,06 persen dari total penjualan yang mencapai Rp14,29 triliun. Meski demikian, penjualan CPIN di luar negeri selama kuartal I/2022 meningkat daripada posisi pada periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar Rp5,33 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor ayam unggas harga ayam emiten perunggasan
Editor : Aprianus Doni Tolok
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top