Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Timah Melonjak Usai Lockdown China Dicabut, Kok Saham Emitennya Malah Turun?

Saham sejumlah perusahaan timah bergerak turun di tengah kenaikan harga timah global.
Timah digunakan untuk penyambung logam./Bloomberg - Waldo Swiegers
Timah digunakan untuk penyambung logam./Bloomberg - Waldo Swiegers

Bisnis.com, JAKARTA – Harga timah global kembali merangkak naik usai pemerintah China mencabut peraturan lockdown. Namun, saham emiten produsen timah justru terlihat melemah.

China yang merupakan negara produsen sekaligus konsumen timah terbesar pertama dunia turut memengaruhi harga timah secara global.

Mengutip keterangan resmi Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Senin (6/6/2022) harga timah yang ada di bursa berjangka tersebut bergerak stabil mendekati level US$40.000 per ton, setelah sebelumnya sempat anjlok di kisaran US$33.000 per ton.

Dalam sepekan, harga timah di ICDX menguat 0,92 persen dengan volatilitas tertinggi mencapai 1,40 persen.

Berdasarkan data terbaru Bea Cukai China yang dilansir dari ICDX, volume impor bijih timah pada April 2022 secara bulanan menurun 45 persen menjadi 15.811 ton.

Sementara itu, peraturan lockdown yang ditetapkan pemerintah China berimbas pada penurunan pasokan timah dari Myanmar yang hanya sebesar 60 persen atau sekitar 9.448 ton.

Sebelumnya, Myanmar merupakan pemasok timah terbesar ke China dengan hingga 90 persen.

Penguatan harga timah tidak diikuti saham-saham emitennya. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Timah Tbk. (TINS) terkoreksi 3,02 persen atau setara 60 poin ke posisi 1.925, disusul PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang menurun 2 persen atau 50 poin ke level 2.450.

Berikutnya ada HRUM, NICL, dan NIKL yang masing-masing turun 3,32 persen, 2,63 persen, dan 1,66 persen. Meski begitu, dalam sepekan terakhir NICL dan TINS terkerek masing-masing 16,84 persen dan 7,54 persen. Sedangkan HRUM melesat hingga 406,52 persen dalam seminggu.

Adapun NIKL dan ANTM dalam seminggu turun di kisaran 1,66 persen hingga 2 persen.

Dalam acara Road to G20: Investment Forum Mei 2022, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah berencana melarang ekspor timah pada akhir tahun ini guna membangun penghiliran dan industri berbasis energi baru terbarukan dan ramah lingkungan.

Hal ini dapat menjadi sentimen tersendiri bagi emiten penghasil timah. Pasalnya, Indonesia merupakan negara produsen timah terbesar kedua dunia setelah China, namun hanya sekitar 5 persen saja dari total produksi yang dikonsumsi dalam negeri.

ICDX menilai, meskipun tujuan dari pelarangan ekspor akan berdampak pada nilai tambah dalam negeri, namun penerapan kebijakan tersebut juga perlu mempertimbangkan aspek penyerapan di sektor pengguna timah dalam negeri maupun keberlangsungan dari industri pabrik pengolahan (smelter) timah.

Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan, sektor tambang logam masih menjadi sektor pendukung industri lainnya.

Industri tambang logam terbilang rentan dengan berbagai sentimen, sehingga perlu diperhatikan oleh para pelaku pasar.

“Outlooknya balik lagi, ada sentimen apa nanti ke depannya sepanjang tahun ini, yang dapat mempengaruhi pergerakan harga komoditas," tutur Reza.

Pada perdagangan awal pekan ini, Senin (6/6/2022), sejumlah emiten penghasil timah kompak ditutup di zona merah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper