Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Intip Prospek Bisnis Amonia Surya Esa (ESSA), Masih Moncer?

Surya Esa (ESSA) masih berpeluang meningkatkan kinerja di tengah lonjakan harga pupuk.
Dewi Fadhilah Soemanagara
Dewi Fadhilah Soemanagara - Bisnis.com 27 Mei 2022  |  14:50 WIB
Emiten produsen amonia dan LPG, PT Surya Esa Perkasa Tbk. (ESSA), mengumumkan identitas logo barunya.
Emiten produsen amonia dan LPG, PT Surya Esa Perkasa Tbk. (ESSA), mengumumkan identitas logo barunya.

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten gas dan kimia, PT Surya Esa Perkasa Tbk. (ESSA) diperkirakan dapat meningkatkan kinerja bisnis amonia di tahun ini.

Analis Mirae Asset Sekuritas Jennifer A. Harjono menjelaskan, permintaan amonia cenderung stabil di tengah kenaikan harga komoditas. Hal ini dapat meningkatkan kinerja Surya Esa Perkasa.

“Kombinasi average selling price (ASP) amonia yang lebih tinggi dan pemulihan volume produksi akan meningkatkan laba bersih triwulanan yang masuk,” ujar Jennifer dalam risetnya, dikutip Jumat (27/5/2022).

Harga amonia sejak awal 2021 terus meningkat karena beberapa faktor, yaitu kenaikan harga gas alam yang menjadi bahan baku, serta gangguan pasokan amonia akibat konflik geopolitik Rusia-Ukraina.

Sebagai catatan, Rusia merupakan pengekspor amonia terbesar kedua di dunia dengan kontribusi sekitar 15 persen pada tahun 2020.

Jennifer mencontohkan, harga amonia Timur Tengah pada 2022 lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Pada kuartal IV/2021 harga amonia sebesar US$777 per metrik ton, sedangkan pada kuartal I/2022 harga amonia menyentuh US$960 per metrik ton.

Sekitar 80 persen dari produksi amonia digunakan untuk membuat pupuk urea, yang menjadi kebutuhan utama petani di Indonesia.

“Naiknya harga komoditas pertanian memungkinkan petani untuk terus memupuk di tengah lonjakan harga pupuk, yang seharusnya membuat permintaan amonia tetap terjaga,” imbuhnya.

Menurut perusahaan, volume produksi amonia diperkirakan akan pulih pada kuartal I/2022, sejalan dengan pemulihan tingkat utilisasi pabrik amonia setelah sempat terganggu karena pemeliharaan pada kuartal IV/2021.

ESSA merupakan salah 1 dari 11 emiten asal Indonesia yang akan dimasukkan dalam indeks MSCI Small Cap efektif mulai Juni 2022.

Di antara sebelas perusahaan tersebut, Surya Esa Perkasa adalah satu-satunya perusahaan Indonesia yang bergerak di bisnis amonia. Hal ini menjadi peluang bisnis yang dinilai dapat meraup keuntungan dari harga amonia.

Sejak awal 2022 hingga 24 Mei 2022, investor asing membukukan net outflow dari ESSA dengan total sekitar Rp377 miliar.

Masuknya ESSA dalam indeks ekuitas internasional di tengah pertumbuhan pendapatan perseroan dapat memicu investor asing untuk membalikkan arus kas bersih mereka di ESSA.

Mirae tidak memberikan rating apapun untuk saham ESSA. Katalis jangka pendek emiten ini terkait pertumbuhan pendapatan yang dinilai kuat serta kenaikan harga amonia.

Adapun risiko utama yaitu kemungkinan terjadinya gangguan dalam produksi dan melemahnya harga amonia.

Pada perdagangan sesi pertama di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jumat (27/5/2022), harga saham ESSA menguat 0,39 persen ke posisi 1.295 hingga pukul 11.30 WIB.

Sepanjang sesi pertama perdagangan, saham dengan kapitalisasi pasar Rp20,2 triliun tersebut bergerak di rentang 1.285-1.335.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Kinerja Emiten amoniak surya esa perkasa ESSA
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top