Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News BisnisIndonesia.id: Larangan Ekspor Gandum India hingga Saham Potensial Jika IHSG Bangkit

Berita tentang larangan ekspor gandung oleh India menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 18 Mei 2022  |  09:06 WIB
Gandum dan tepung terigu.  - Istimewa
Gandum dan tepung terigu. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pelarangan ekspor gandum India menjadi kondisi yang cukup mengkhawatirkan bagi ekonomi global. Salah satu efeknya, harga komoditas tersebut makin tinggi dan pasokan makin terbatas.

Berita tentang larangan ekspor gandung oleh India menjadi salah satu berita pilihan editor BisnisIndonesia.id. Selain berita tersebut, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji dari meja redaksi BisnisIndonesia.id.

Berikut ini highlight Bisnisindonesia.id, Rabu (18/5/2022):

 

  1. Tertekan Biaya Konstruksi, Akankah Harga Rumah Komersial Naik?

Saat ini, sebagian besar pengembang properti tengah menahan kenaikan harga hunian terutama produk rumah tapak komersial meskipun di tengah gempuran melambungnya harga bahan bangunan yang telah terjadi sejak tahun lalu.

Di tambah lagi belum usainya perang antara Rusia dan Ukraina turut serta menyebabkan makin melonjaknya harga bahan bangunan seperti besi dan baja di pasar global.

Selain itu, per 1 April kemarin, pemerintah mulai memberlakukan tarif baru Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen yang 1 persen.

Para pengembang pun tengah mengkaji rencana kenaikan harga rumah pada semester II. Harga baru hunian komersil nantinya juga akan mengakomodir Bank Indonesia yang diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate.

  1. Babak Baru BSI Menuju Medan Persaingan di Bisnis Internasional

Langkah PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI untuk melebarkan sayap bisnisnya ke wilayah Timur Tengah menandai keseriusan bank syariah terbesar di Tanah Air ini untuk mewujudkan ambisinya dan ambisi negara untuk menjadikannya salah satu bank syariah papan atas global.

BSI telah menandatangani kerja sama dengan Lulu Hypermart Indonesia sebagai jaringan Lulu Hypermart Global serta perusahaan fintech bernama Berrypay, pada Jumat (13/5), bersamaan dengan grand launching kantor perwakilan BSI di Dubai, Uni Emirat Arab.

Langkah ini menjadi tonggak bersejarah bagi emiten berkode saham BRIS ini sekaligus menandai langkah awal ekspansi perusahaan ke pasar internasional. Langkah ekspansi ini pun sejatinya sudah menjadi visi besar BSI sejak awal proses pembentukannya pada 2020 lalu.

  1. Menakar Efek Larangan Ekspor Gandum India vs Ekspor CPO RI

Setelah pelarangan ekspor bahan minyak goreng mentah atau crude palm oil/CPO oleh pemerintah Indonesia, kini giliran pemerintah India yang baru saja mengumumkan kebijakan untuk melakukan pembatasan ekspor gandum.

Posisi Negeri Bollywood  tersebut tercatat dalam daftar 10 besar eksportir gandum ke pasar global. India menempati posisi 10 di dunia pada 2021, di bawah Rumania. Berdasarkan data trademap.org, pada tahun lalu, volume ekspor gandum dan biji meslin ke pasar global mencapai 4,47 juta ton. Di sisi lainnya, India juga menjadi salah satu negara pemasok gandum bagi para importir di Indonesia.

Sementara, pada 2021 lalu, India memasok sekitar 318.467 ton biji gandum dan meslin ke Indonesia. Dengan angka tersebut, India menempati peringkat keenam sebagai eksportir gandum terbesar ke Indonesia.

  1. Memilah Saham-saham Potensial Jika IHSG Berbalik Menguat

Indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat pada akhir perdagangan hari pertama pekan ini, Selasa (17/5) setelah sepanjang pekan lalu tertekan selama 5 hari beruntun. Hal ini menjadi sinyal pembalikan arah IHSG. Lantas, saham mana yang menarik untuk diburu?

Pada akhir pekan lalu, IHSG sudah ditutup di level 6.597,99 dan menyisakan tingkat return sebesar 0,25 persen saja secara year-to-date (YtD). Artinya, IHSG hampir ditutup di level yang sama seperti level penutupan pada akhir 2021 lalu.

Dengan demikian, secara fundamental IHSG sejatinya sangat kuat, terbukti dari lajunya yang sukses menyentuh rekor. Namun, pasar saham Indonesia pun tidak kebal terhadap faktor eksternal. Pengetatan suku bunga global mau tidak mau turut berdampak pada IHSG.

  1. Sasaran Minyak Goreng, Menebar Curah Menuai Murah

Upaya mengatasi gejolak pasokan dan harga minyak goreng sejak beberapa bulan terakhir tak kunjung tuntas hingga kini, meskipun serangkaian langkah sudah ditempuh pemerintah.

Sejak pemerintah melarang ekspor bahan bakunya lebih dari dua pekan lalu, harga minyak goreng di dalam negeri sampai pertengahan Mei 2022 belum juga turun, terutama kemasan curah yang ditetapkan Rp14 ribu per liter.

Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat hingga 15 Mei, harga minyak goreng curah di seputar DKI Jakarta masih berkisar Rp17.400 atau turun dari Rp20 ribu sebelum Lebaran, kemasan sederhana sekitar Rp23.900, dan kemasan premium sekitar Rp26.300 per liter.

Tingginya harga juga masih dirasakan hampir di seluruh daerah. Bahkan di Sumatra Utara yang notebene penghasil minyak sawit mentah (CPO) misalnya, minyak goreng curah masih sekitar Rp17.000 sementara jenis kemasan sekitar Rp23.850 per kg.

Tampaknya kalangan pelaku bisnis mulai dari produsen, distributor, hingga pedagang eceran benar-benar mampu mengontrol minyak goreng, jika tak ingin disebut mempermainkan kebijakan pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Top 5 News Bisnisindonesia.id
Editor : Emanuel B. Caesario

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top