Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Mentah Merosot, Tertekan Ekspektasi Pasokan Venezuela

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni jatuh 2,31 poin atau 2,0 persen ke level US$111,93 per barel di ICE Futures Europe.
Rangkaian kereta pengangkut minyak mentah, bahan bakar, dan gas cair dalam posisi miring di stasiun kereta Yanichkino, menuju ke kilang Gazprom Neft PJSC Moscow di Moskow, Rusia/Bloomberg-Andrei Rudakov
Rangkaian kereta pengangkut minyak mentah, bahan bakar, dan gas cair dalam posisi miring di stasiun kereta Yanichkino, menuju ke kilang Gazprom Neft PJSC Moscow di Moskow, Rusia/Bloomberg-Andrei Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah merosot pada akhir perdagangan Selasa (17/5/2022) di tengah berita bahwa Amerika Serikat akan melonggarkan pembatasan terhadap pemerintah Venezuela.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Juni jatuh 2,31 poin atau 2,0 persen ke level US$111,93 per barel di ICE Futures Europe.

Sementara itu, mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni ditutup melemah 1,8 atau 1,6 persen ke US$112,40 per barel di New York Mercantile Exchange.

Harga minyak turun lebih lanjut menyusul komentar dari Gubernur Federal Reserve Jerome Powell bahwa mungkin ada beberapa kesulitan ekonomi yang terlibat untuk menurunkan inflasi.

Bank sentral AS akan "terus mendorong" untuk memperketat kebijakan moneter AS sampai jelas bahwa inflasi menurun, katanya.

"Beberapa dari komentar itu meredam antusiasme pembelian di sisi minyak," kata analis Price Futures Group Phil Flynn, dilansir Antara, Rabu (18/5/2022).

Sebelumnya, sumber-sumber mengatakan pemerintahan Presiden AS Joe Biden akan segera memberikan wewenang kepada perusahaan minyak AS Chevron Corp untuk bernegosiasi dengan pemerintah Presiden Venezuela Nicolas Maduro, untuk sementara mencabut larangan diskusi semacam itu.

Sebelum itu, Brent telah naik ke tertinggi sesi di 115,69 dolar AS per barel, terbesar sejak 28 Maret. WTI telah mencapai 115,56 dolar AS per barel, tertinggi sejak 24 Maret.

Memperkuat sentimen tersebut, menteri luar negeri Uni Eropa gagal menekan Hongaria untuk mencabut vetonya pada embargo minyak. Tetapi beberapa diplomat sekarang menunjuk KTT 30-31 Mei mendatang sebagai momen untuk kesepakatan tentang larangan bertahap terhadap minyak Rusia.

Angka-angka menunjukkan bahwa pada April, OPEC dan negara-negara sekutu termasuk Rusia, memproduksi jauh di bawah level yang diperlukan berdasarkan kesepakatan untuk secara bertahap mengurangi rekor pengurangan produksi yang dibuat selama pandemi terburuk pada 2020.

Bulan ini, pengiriman non-Rusia ke pelabuhan Polandia Gdansk mencapai yang tertinggi dalam setidaknya tujuh tahun, karena kilang di Jerman timur dan Polandia beralih dari minyak Rusia.

Analis di City Index Fawad Razaqzada mengatakan ini pada akhirnya, ini menjadi sentimen dari sisi penawaran.

"Jika OPEC dan sekutunya tidak meningkatkan produksi dan cepat, harga akan sulit turun," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper