Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Diadang Berbagai Sentimen, Begini Prospek Saham Sektor Cyclical

Banyaknya calon emiten dari sektor cyclical tak lepas dari momentum positif dari tren harga komoditas.
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 15 Maret 2022  |  05:31 WIB
Pengunjung beraktivitas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/2/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pengunjung beraktivitas di depan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (23/2/2022). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat terdapat 23 perusahaan yang masih mengantre dalam pipeline initial public offering (IPO) hingga saat ini.

Dari jumlah tersebut, calon emiten dari sektor konsumer siklikal menjadi yang paling banyak mengantre, yakni 6 perusahan. Lalu terdapat 2 perusahaan teknologi dan 3 dari sektor energi.

Direktur dan Head of Investment Banking PT Sucor Sekuritas Yansen Poaler menilai banyaknya calon emiten dari sektor cyclical tak lepas dari momentum positif dari tren harga komoditas. Hal ini menjadi peluang tersendiri bagi emiten-emiten di sektor ini untuk masuk ke pasar.

Yansen mengemukakan kenaikan harga komoditas memang bersifat jangka pendek karena dipicu oleh terjadinya supply shock. Namun, tetap diperlukan waktu agar harga komoditas kembali stabil karena perlunya penyesuaian secara pasokan dan permintaan global.

"Dalam kurun 6–12 bulan ke depan, saya rasa adalah window of opportunity yang baik untuk mengambil momentum positif bagi emiten-emiten ini masuk ke pasar,” kata Yansen, Senin (14/3/2022).

Dia tidak memungkiri jika kenaikan harga komoditas energi dan pangan bisa memicu penurunan daya beli masyarakat yang tentunya berpengaruh kepada emiten sektor siklikal. Namun, dia melihat dampak positif dari pertumbuhan sektor komoditas bisa mengimbangi penurunan daya beli tersebut.

“Pemerintah masih punya ruang cukup untuk menerapkan kebijakan fiskal, regulasi industri dan juga langkah kebijakan moneter untuk mengimbangi dua faktor ini,” paparnya.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan BNI Sekuritas Dedi Hariyanto mengatakan tekanan harga komoditas yang dipicu oleh eskalasi konflik di Ukraina tidak akan berdampak langsung pada perekonomian Indonesia. Kenaikan harga komoditas justru berdampak positif.

Di sisi lain, pasar keuangan Indonesia masih memperlihatkan kinerja baik jika dibandingkan dengan negara peers.

“Menurut saya tidak terlalu berpengaruh kinerja perusahaan kepada sektor siklikal. Yang perlu dicermati adalah appetite investor asing terhadap pasar modal, khususnya terhadap IPO jumbo,” katanya.

BEI mengumumkan mayoritas perusahaan dalam pipeline IPO termasuk berskala besar dengan klasifikasi aset perusahaan merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017.

Terdapat 1 satu perusahaan aset skala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar. Lalu, 12 perusahaan dengan aset skala menengah antara Rp50 miliar sampai dengan Rp250 miliar. Adapun 10 perusahaan tergolong dalam aset skala besar di atas Rp250 miliar.

Adapun, Indeks Sektor Barang Konsumen Non-Primer (IDXCYCLIC) terpantau menguat 0,48 persen ke level 942,17 pada perdagangan Senin (14/3/2022), mengikuti jejak IHSG yang terapresiasi 0,43 persen. Secara year to date, indeks sektor barang konsumer terapresiasi 5,07 persen atau naik 45,47 poin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG ipo rekomendasi saham consumer goods initial public offering
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top