Bisnis.com, JAKARTA - Rupiah dibuka menguat pada pembukaan perdagangan pagi ini. Sementara mata uang lain di kawasan Asia Pasifik terpantau variatif.
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (10/2/2022)pukul 09.04 WIB, rupiah terapresiasi 0,07 persen menjadi Rp14.348 per dolar AS.
Sementara itu, yen Jepang juga menguat 0,02 persen, won Korea Selatan melemah 0,02 persen, yuan China menguat 0,01 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,06 persen.
Tim Riset Monex Investindo Futures menyebut dolar AS berpeluang mendapatkan katalis penggerak dari data indeks harga konsumen dan data klaim pengangguran mingguan AS.
"Bila kedua data dirilis lebih baik dari ekspektasi, maka harga emas dan mata uang utama lainnya berpeluang bergerak turun," tulis Tim Riset MIFX, Kamis (10/2/2022).
Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, investor saat ini menunggu data inflasi Amerika Serikat (AS), termasuk indeks harga konsumen yang akan dirilis pada hari ini, Kamis (10/2/2022).
Hal tersebut dipercaya sebagai petunjuk lebih lanjut mengenai timeline kenaikan suku bunga oleh The Fed.
Baca Juga
“Selain itu, pasar sekarang memperkirakan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Maret 2022, sehingga imbal hasil Treasury 10-tahun AS melonjak 1,97 persen pada hari Selasa, lompatan yang tidak terlihat sejak November 2019,” kata Ibrahim
Mengutip Antara, Kamis (10/2/2022), dolar AS merosot lebih jauh pada akhir perdagangan akhir perdagangan Rabu (9/2/2022) waktu setempat, sedangkan euro memperpanjang kenaikannya menyusul perubahan hawkish dari Bank Sentral Eropa (ECB) pekan lalu dan menjelang data utama harga konsumen AS yang akan dirilis pada Kamis.
Angka IHK (indeks harga konsumen) mungkin menawarkan indikasi baru tentang laju pengetatan moneter Federal Reserve, dan investor bersiap untuk angka yang lebih tinggi dari perkiraan yang akan menandakan kenaikan suku bunga yang lebih agresif.