Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Ditutup Bergejolak, Nasdaq Tenggelam 1,2 Persen

Volatilitas baru-baru ini di seluruh aset berisiko sebagian besar mencerminkan penilaian kembali investor terhadap harga aset bernilai tinggi, dengan kenaikan suku bunga dan pengurangan likuiditas dari Federal Reserve.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 20 Januari 2022  |  05:52 WIB
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan yang bergejolak pada Rabu (19/1/2022) waktu setempat lantaran investor yang gugup mengamati lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (20/1/2022), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,96 persen atau 339,82 poin ke 35.082,65, S&P 500 anjlok 0,97 persen atau 44,35 poin ke 4.532,76 dan Nasdaq terjun 1,15 persen atau 166,64 poin ke 14.340,26.

Nasdaq yang kembali melemah 1,2 persen menambah level koreksi penutupan lebih dari 10 persen, di bawah rekor tertinggi baru-baru ini dari November 2021.

Sementara itu, saham Bank of America (BAC) naik setelah perusahaan melampaui perkiraan analis untuk pertumbuhan penyaluran pinjaman triwulanan dan membukukan lonjakan keuntungan dalam bisnis perbankan konsumen utamanya.

Saham Procter & Gamble (PG) juga naik setelah perusahaan melampaui ekspektasi dalam laporan keuangan terbarunya dan meningkatkan panduan penjualannya untuk setahun penuh, dengan kenaikan harga sehingga berpotensi membantu perseroan meningkatkan laba.

Imbal hasil Treasury AS sempat beberapa mengalami kenaikan baru-baru ini, dan benchmark imbal hasil tenor 10 tahun mundur setelah mendekati 1,9 persen sehari sebelumnya untuk level tertinggi sejak Januari 2020. Harga komoditas juga naik, dan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS naik di atas US$86 per barel atau level tertinggi sejak 2014.

Menurut banyak analis, volatilitas baru-baru ini di seluruh aset berisiko sebagian besar mencerminkan penilaian kembali investor terhadap harga aset bernilai tinggi, dengan kenaikan suku bunga dan pelemahan likuiditas dari Federal Reserve.

Meskipun pejabat The Fed berada dalam blackout periode sebelum pertemuan berikutnya minggu depan, pembuat kebijakan selama beberapa minggu terakhir telah mengirim sinyal bahwa mereka bersiap untuk menaikkan suku bunga dan akhirnya menarik hampir US$9 triliun pada neraca Fed karena pemulihan ekonomi berlanjut dan inflasi melonjak.

Pada titik ini, sangat jelas bahwa kenaikan suku bunga pertama akan terjadi pada pertemuan Maret. Apa yang akan kita lihat adalah bahasa seputar inflasi karena pada akhirnya, inflasilah yang mendorong kebijakan Fed,” kata Jason Ware, Kepala Investasi Albion Financial Group kepada Yahoo Finance Live.

Ahli strategi lain mengutarakan pendapat serupa.

"Saya pikir itu pasti reposisi pasar untuk benar-benar menghadapi apa yang telah dilakukan The Fed. Dan The Fed pada dasarnya telah menciptakan kepastian seputar fakta bahwa akan ada kenaikan suku bunga," kata David Bailing, Kepala Investasi Citi Global Wealth.

Menurutnya pertanyaan berikutnya adalah, berapa banyak yang benar-benar The Fed keluarkan dari portofolio mereka. Hal itulah yang menciptakan ketidakpastian sangat besar di pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street dow jones nasdaq

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top