Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perluas Pasar Reksa Dana, BNP Paribas AM Gaet Bank Commonwealth dan Standard Chartered

Kemitraan ini diharapkan membuka kesempatan lebih luas lagi bagi investor di Indonesia untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan di sektor teknologi global melalui BNP Paribas DJIM Global Technology T50S USD, reksa dana pertama di Indonesia yang berinvestasi di pasar teknologi global.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 19 November 2021  |  11:27 WIB
Perluas Pasar Reksa Dana, BNP Paribas AM Gaet Bank Commonwealth dan Standard Chartered
Presiden Direktur BNP Paribas AM Priyo Santoso pada Selasa (21/9 - 2021) meluncurkan Reksa Dana Indeks BNP Paribas IDX Growth30 ETF.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - PT BNP Paribas Asset Management (PT BNP Paribas AM) memperluas akses bagi reksa dana pertama di Indonesia yang bertemakan teknologi global, Reksa Dana Syariah Indeks BNP Paribas DJIM Global Technology Titans 50 Syariah USD (BNP Paribas DJIM Global Technology T50S USD), melalui kemitraannya dengan PT Bank Commonwealth dan Standard Chartered Bank Indonesia.

Dikutip dari keterangan resmi perusahaan pada Jumat (19/11/2021), kemitraan ini diharapkan membuka kesempatan yang lebih luas lagi bagi investor di Indonesia untuk memanfaatkan peluang pertumbuhan di sektor teknologi global melalui BNP Paribas DJIM Global Technology T50S USD, sebagai reksa dana pertama di Indonesia yang berinvestasi di pasar teknologi global.

Tak hanya sebagai reksa dana tematik, BNP Paribas DJIM Global Technology T50S USD juga memenuhi prinsip Syariah sehingga memberikan nilai tambah dalam investasi yang berprinsip dan beretika. Adapu, reksa dana ini baru saja dirilis pada 20 September lalu.

Priyo Santoso, Presiden Direktur PT BNP Paribas AM menyampaikan, dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan teknologi global terbesar di dunia telah menjadi tulang punggung perekonomian global dan penggerak pasar yang dominan. Kehadiran reksa dana ini diharapkan dapat menjadi peluang tersendiri bagi para investor.

“Kami sangat senang menyambut kemitraan kami bersama Bank Commonwealth dan Standard Chartered Bank Indonesia sehingga bisa memberikan akses bagi para investor di Indonesia ke 50 saham perusahaan teknologi blue-chip global, dan menangkap peluang pasar melalui investasi yang sesuai dengan prinsip Syariah,” kata Priyo dikutip dari keterangan resminya.

Chief of Retail & SME Business Bank Commonwealth Ivan Jaya menyebutkan pihaknya antusias dan optimistis dalam memasarkan BNP Paribas DJIM Global Technology T50S USD. Produk ini merupakan solusi untuk nasabah dengan profil risiko high growth yang tertarik berinvestasi di produk yang memiliki fokus pada sektor teknologi.

Ivan menyebutkan pada pasar global, emiten new economy memiliki valuasi dan kapitalisasi pasar yang besar seperti Microsoft, Apple, dan Alphabet. Selain itu, transaksi pembelian, pengalihan maupun penjualan kembali atas produk ini dapat dilakukan dengan mudah melalui aplikasi CommBank SmartWealth.

Meru Arumdalu, Head of Wealth Management, Standard Chartered Bank Indonesia, menjelaskan, sesuai dengan hasil studi Wealth Expectancy 2021 dari Standard Chartered, 96 persen orang Indonesia telah mencoba lebih dari lima peluang investasi atau strategi investasi baru setelah pandemi. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 94 persen.

Oleh karena itu, teknologi menjadi salah satu sektor yang mungkin diminati oleh para investor Indonesia sebagai bagian dari strategi investasi baru.

“BNP Paribas DJIM Global Technology T50S USD tentunya akan menambah jajaran pilihan produk investasi yang menawarkan akses ke sektor teknologi global yang kami tawarkan ke para nasabah setia kami, dan kami senang sekali dapat bermitra dengan PT BNP Paribas AM sebagai salah satu mitra andalan kami,” paparnya.

BNP Paribas DJIM Global Technology T50S USD bertujuan mereplikasi Indeks DJIM Global Technology Titans 50 yang dikeluarkan oleh penyedia indeks global terkemuka S&P Dow Jones Indices.

Komposisi indeks sebesar 96 persen didominasi oleh industri internet & social media, perangkat lunak, semikonduktor, dan perangkat keras komputer. Sementara 4 persen nya merupakan representasi dari industri layanan komputer dan perangkat telekomunikasi.

Indeks tersebut juga cukup terdiversifikasi dimana tidak ada satu pun bobot industri yang melebihi 30 persen, yang menunjukkan distribusi yang merata di berbagai segmen.

Konstituen saham di indeks diseleksi berdasarkan penyaringan aktivitas bisnis dan rasio hutang, sehingga menjadikan reksa dana ini sesuai dengan etika dan prinsip Syariah tanpa mengabaikan peluang terhadap inovasi dan pertumbuhan.

PT BNP Paribas AM percaya bahwa konsep indeksasi sesuai untuk menangkap peluang dalam sektor teknologi global. Melihat karakteristik sektornya yang dinamis dan masih terus berkembang, dibutuhkan cara yang efisien untuk merepresentasikan sektor turunannya secara menyeluruh. Selain itu, investor juga memerlukan informasi yang transparan setiap kali terjadi perkembangan, dan hal ini hanya dapat diakomodasi melalui solusi indeksasi ini.

“Kemitraan baru ini memperluas ketersediaan akses reksa dana ini, karena kami percaya bahwa ketergantungan masyarakat pada teknologi akan terus tumbuh," papar Priyo.

Dalam berinvestasi, menurutnya, eksposur ke sektor ini akan memiliki nilai tambah dalam jangka panjang dan menambah diversifikasi ke portofolio investor.

"Bersama mitra-mitra kami saat ini, kami berharap dapat terus memberikan solusi investasi yang relevan dengan kondisi global yang kian berubah bagi para investor.” tutup Priyo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana bnp paribas standard chartered bank commonwealth
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top