Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Obligasi Tahan Banting, Reksa Dana Pendapatan Tetap Bisa Jadi Pilihan Investor

Dinamika pasokan obligasi yang lebih baik dan tingkat imbal hasil obligasi Indonesia yang menarik diharapkan dapat meredam dampak kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat di 2022.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 18 November 2021  |  14:24 WIB
Pasar Obligasi Tahan Banting, Reksa Dana Pendapatan Tetap Bisa Jadi Pilihan Investor
ilustrasi investasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Reksa dana pendapatan tetap dapat menjadi salah satu pilihan bagi investor di sisa tahun ini seiring dengan ketahanan pasar obligasi.

Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Dimas Ardhinugraha menjelaskan pasar obligasi kini lebih siap dalam menghadapi tren perubahan sentimen global ini.

Faktor kepemilikan asing yang jauh lebih rendah dibandingkan periode-periode sebelumnya, dinamika pasokan obligasi yang lebih baik dan tingkat imbal hasil obligasi Indonesia yang menarik diharapkan dapat meredam dampak kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat di 2022.

“Fundamental makro yang lebih baik dan stabilitas eksternal yang terus diperkuat diharapkan dapat menjaga volatilitas pasar obligasi Indonesia,” jelas Dimas dikutip dari laporannya

Selain itu, reksa dana saham juga dapat menjadi alternatif untuk investor. Dimas menjelaskan, aliran dana asing masuk pasar saham semakin kuat bahkan menjelang pengetatan moneter The Fed. Minat terhadap saham kapitalisasi besar mulai menunjukkan perbaikan didukung oleh membaiknya situasi pandemi dalam negeri.

Sementara itu, saham ekonomi digital menawarkan prospek jangka panjang yang menarik didukung tren struktural industri yang mengarah ke digital dan potensi inklusi pada indeks saham global.

Faktor-faktor tersebut menjadi peluang bagi investor untuk menambah portofolio investasinya di reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham.

“Sekarang tinggal investor yang menentukan, akan memilih yang mana. Namun sebelum keputusan investasi dijatuhkan, pastikan untuk menyesuaikan terlebih dahulu dengan profil risiko masing-masing, agar tidak menyesal kemudian,” katanya.

Sebelumnya, Laporan dari Infovesta Utama menyebutkan, kinerja reksa dana pendapatan tetap masih akan prospektif hingga akhir tahun. Hal tersebut telah terlihat dari dampak tapering yang cenderung terbatas pada pasar modal Indonesia.

Dampak tapering cenderung terbatas terhadap pasar surat utang seiring dengan komunikasi yang baik The Fed terkait rencana pengetatan likuiditas tersebut. Pergerakan yield SBN cenderung stabil di level 6,28 persen.

“Walau demikian, indeks acuan obligasi SBN dan korporasi masih tercatat naik terbatas masing-masing sebesar 0,21 persen dan 0,12 persen,” demikian kutipan laporan tersebut.

Beberapa indikator ekonomi yang cukup solid juga mendukung pergerakan pasar surat utang. Kebijakan moneter yang lebih prudent atau cenderung berhati-hati turut mendorong ekonomi tumbuh lebih baik.

Bank Indonesia memberikan dukungannya dengan mengeluarkan berbagai kebijakan untuk mengurangi dampak tapering melalui stress test yang dilakukan, triple intervention, skema burden sharing dan kerjasama bilateral mengenai penggunaan mata uang lokal.

Selain itu, Indonesia juga mencatatkan sejumlah statistik indikator ekonomi yang cukup baik, meskipun rilis data GDP kuartal III/2021 mengalami penurunan (3,51 persen yoy) atau berada di bawah konsensus imbas gelombang kedua pandemi yang menyerang pada kuartal III/2021.

Pasalnya, Indonesia sebagai produsen komoditas energi mendapatkan dampak positif dari krisis energi yang melanda sejumlah negara. Alhasil, neraca dagang tercatat surplus (US$4,37 juta) dengan kenaikan ekspor yang tajam (47,64 persen).

Nilai tukar rupiah terhadap USD stabil di level Rp14.300-an, cadangan devisa (US$145,46) dan tingkat inflasi yang masih rendah (1,66 persen yoy). Statistik indikator ekonomi di atas, memberikan gambaran bahwa fundamental ekonomi dalam negeri cukup solid.

“Terlepas dari kondisi di atas, dampak tapering masih akan menekan pasar surat utang meskipun terbatas,” demikian kutipan laporan tersebut.

Laporan tersebut melanjutkan, tren sell-off investor asing pada instrumen berbasis surat utang yang terjadi sepanjang tahun 2021, tidak begitu menekan kinerja reksa dana pendapatan tetap di tengah kenaikan jumlah investor lokal.

Hal ini tercermin dari kinerja indeks acuan obligasi secara ytd yang mengalami kenaikan, masing-masing SBN 3,90 persen dan korporasi 4,50 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi reksa dana investasi reksa dana
Editor : Hafiyyan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top