Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pelita Air Santer Dikabarkan Gantikan Garuda (GIAA), Ini Penjelasan Wamen BUMN

Ramai beredar kabar bahwa Pelita Air disiapkan sebagai pengganti Garuda Indonesia (GIAA). Wamen BUMN Kartika Wirjoatmodjo pun memberikan penjelasan.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 10 November 2021  |  16:13 WIB
Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Internasional Yogyakarta. - Antara
Pesawat Garuda Indonesia di Bandara Internasional Yogyakarta. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo menanggapi kabar maskapai PT Pelita Air Service yang disiapkan sebagai pengganti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA).

Kartika mengatakan, pihaknya tidak menyiapkan Pelita Air untuk menggantikan posisi emiten penerbangan berkode saham GIAA tersebut. Pelita Air hanya akan disiapkan apabila proses restrukturisasi utang GIAA gagal.

“Itu [Pelita Air] hanya sekoci cadangan jika proses in court-nya GIAA gagal,” katanya di sela-sela kunjungan ke Depo LRT Jabodebek, Rabu (10/11/2021).s

Ia melanjutkan, Pelita Air juga telah memulai pemesanan sejumlah unit pesawat, salah satunya adalah jenis Airbus A320. Meski demikian, Kartika enggan memaparkan rencana operasional maskapai yang dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) tersebut.

Dikutip dari website resminya, pendirian Pelita Air berawal dari kebutuhan Pertamina untuk mendukung kegiatan eksplorasi, eksploitasi, kargo, serta transportasi migas dan/atau personel. Awalnya pada 1963, Pertamina membuat departemen layanan udara yang disebut Pertamina Air Service.

Pada 1970 atau 7 tahun setelahnya, Pertamina menutup departemen layanan udara dan sebagai gantinya mendirikan PT Pelita Air Service (PAS), anak perusahaan otonom untuk menyediakan operasi penerbangan berkelanjutan.

Maskapai ini kemudian diberi misi melakukan operasi penerbangan untuk melayani dan mengkoordinasikan operasi penerbangan secara ekonomis dalam industri migas di Indonesia melalui penerbangan charter dan kegiatan terkait. Termasuk kegiatan transmigrasi, pemadam kebakaran, pengungsi, palang merah, tumpahan minyak, foto udara, transportasi kargo.

Selanjutnya, layanan Pelita Air diperluas ke penerbangan untuk VVIP, lepas pantai, evakuasi medis, operasi seismik, survei geologi, helirig, pilot helikopter untuk disewa, dukungan dan pelatihan.

Selama beberapa dekade, Pelita Air melayani jasa penerbangan bagi beberapa perusahaan migas di Indonesia, baik perusahaan asing maupun domestik.

Pada 2000 sampai 2005, Pelita Air pernah mencoba berbisnis penerbangan reguler untuk banyak rute. Namun, agar lebih fokus pada bisnis utamanya, Pelita Air memutuskan untuk berkonsentrasi pada charter penerbangan udara. Penerbangan reguler ditutup pada 2005.

Pelita Air Service memiliki anak usaha di bidang pemeliharaan dan perbaikan pesawat, yakni PT IndoPelita Aircraft Services. Selain itu, Pelita Air juga memiliki lapangan terbang secara eksklusif di Pondok Cabe, Jakarta Selatan, yang terdiri dari hanggar, gudang dan landasan pacu sepanjang 2.000 meter.

Pelita Air Service mengoperasikan beberapa armada antara lain pesawat rotary wing dan fixed wing untuk melewati seluruh medan Indonesia. Di antaranya, ATR 42-500, ATR 72-500, CASA 212-200, AT 802, Bell 412 EP, Bolkow NBO-105, Sikorsky S76 C++, Sikorsky S76-A, Bell 430.

Berdiri dengan sejarah berdasarkan eksplorasi dan eksploitasi ladang minyak dan gas alam, Pelita Air berkomitmen untuk memberikan layanan luas yang memenangkan penghargaan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN Garuda Indonesia maskapai penerbangan kartika wirjoatmodjo Pelita Air
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top