Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Erick Thohir Cek Proyek DME PTBA-Pertamina di Sumsel

Menteri BUMN Erick Thohir memantau proyek penghiliran Bukit Asam atau PTBA, berupa dimethyl ether.
Hafiyyan & Rayful Mudassir
Hafiyyan & Rayful Mudassir - Bisnis.com 24 Oktober 2021  |  02:58 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir saat RDP dengan Komisi VI DPR membahas usulan PMN 2022, Kamis (8/7 - 2021).
Menteri BUMN Erick Thohir saat RDP dengan Komisi VI DPR membahas usulan PMN 2022, Kamis (8/7 - 2021).

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri BUMN Erick Thohir memantau proses transformasi bisnis Badan Usaha Milik Negara yang beroperasi di wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Salah satunya proyek PT Bukit Asam Tbk.

Erick Thohir mengatakan, Kementerian BUMN menetapkan terdapat lima pondasi dalam proses transformasi BUMN ini yakni perbaikan korporasi dan pelayanan publik, fokus pada bisnis inti, inovasi berbasis digitalisasi, proses bisnis yang baik dan diawali dengan tranformasi sumber daya manusia.

“Saya ke Sumsel untuk mengecek apakah proses transformasi yang dilakukan di antaranya oleh PT Bukit Asam, Pusri dan Pertamina ini sudah sesuai,” kata Erick, mengutip Antara, Sabtu (23/10/2021).

Erick mengakui pihaknya mengawal proses transformasi bisnis PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), yang mana saat ini menggarap energi baru terbarukan untuk melahirkan produk dimethyl ether (DME) dalam program penghiliran batu bara.

Dalam upaya transformasi itu, Erick menekan setiap BUMN tetap menjaga nilai dasar (core values) yang telah ditetapkan bersama sejak 1 Juli 2020, yakni AKHLAK, akronim dari Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.

Melalui penerapan nilai dasar itu, ternyata di tengah pandemi, Kementerian BUMN yang membawahi 41 BUMN mampu mencapai kinerja positif meski sebagian besar terdampak keuangan.

Berkat upaya efisiensi dan fokus pada bisnis inti itu, BUMN juga mampu berkontribusi ke negara senilai Rp377 triliun melalui pajak, dividen, dan bagi hasil.

Capaian positif lainnya dapat dilihat dari kenaikan laba hingga 365 persen atau pada semester I 2020 hanya mencapai Rp6 triliun, sementara pada periode yang sama tahun 2021 mampu meraup Rp26 triliun.

“Berdasarkan penilaian Komite ASN, Kementerian BUMN merupakan salah satu kementerian yang sukses dalam transformasi SDM. Ini harus dijaga terus dan jangan jumawa,” kata Erick.

Sementara itu, PT Bukit Asam Tbk. menggeber proyek hilirisasi batu bara dengan mengolah komoditas itu menjadi dimethyl ether (DME) untuk menekan impor liquefied petroleum gas atau LPG. 

Direktur Utama Bukit Asam Suryo Eko Hadianto mengatakan bahwa hilirisasi coal to DME diharapkan menjadi pengganti gas impor di masa depan.

Dalam grand strategi nasional, DME menjadi salah satu energi alternatif sebagai substitusi LPG untuk mengurangi impor. Negara ditaksir dapat menghemat anggaran hingga Rp10 triliun per 1 juta ton gas.

“Diharapkan pada 2030 Indonesia mampu memproduksi DME sekitar 3 juta ton setara LPG,” katanya saat webinar, Jumat (26/9/2021) malam.

Pada prosesnya, kebutuhan 1 juta ton LPG akan tergantikan dengan produksi 1,4 juta ton DME. Untuk membangun proyek dengan kapasitas 1,4 juta ton DME dibutuhkan investasi tidak kurang dari US$2,1 miliar atau setara Rp29,4 triliun.

Selain itu, pemanfaatan batu bara juga akan meningkat melalui proyek tersebut. Setidaknya dibutuhkan 6 juta ton batu bara per tahun untuk dapat memproduksi 1,4 juta ton DME. Artinya, batu bara yang dapat dimanfaatkan mencapai 180 juta ton selama 30 tahun.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan sumber daya batu bara dalam negeri mencapai 143,7 miliar ton. Sementara itu, cadangan batu bara yang telah diteliti mencapai 38,8 miliar ton.

Dari proyek coal to DME, PT Bukit Asam akan bekerja sama PT Pertamina (Persero) sebagai offtaker dan distributor. Pasalnya selama ini perusahaan itu telah menjadi distributor gas.

“Air Products kami hire sebagai mitra yang memang menguasai teknologi dan membawa investasi dari luar senilai US$2,1 miliar.”

Dari sisi produksi, 6 juta ton batu bara akan diolah terlebih dulu menjadi syngas dan diproses kembali menjadi metanol. Metanol itu nantinya akan menjadi bahan baku produk DME.

Saat ini, PTBA tengah menyelesaikan penetapan harga DME untuk Indonesia. Proses itu juga masih digodok di Kementerian ESDM bersama konsorsium tiga perusahaan tersebut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN ptba bukit asam erick thohir gasifikasi batu bara
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top