Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja Kuartal III/2021 Ciamik, Simak Rekomendasi Saham Sido Muncul (SIDO)

Sebanyak 91,3 persen analis dalam konsensus Bloomberg masih merekomendasikan beli untuk saham emiten berkode SIDO ini.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 18 Oktober 2021  |  19:28 WIB
Sebuah iklan Tolak Angin produksi PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) terpampang di sebuah warung pinggir jalan di Jakarta, Minggu (16/2/2014). Bloomberg - Dimas Ardian
Sebuah iklan Tolak Angin produksi PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) terpampang di sebuah warung pinggir jalan di Jakarta, Minggu (16/2/2014). Bloomberg - Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen jamu, PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) masih memiliki prospek harga saham yang cukup baik hingga akhir tahun. Kinerja ciamik per kuartal III/2021 diperkirakan akan berlanjut hingga akhir tahun.

Berdasarkan konsensus analis Bloomberg, Senin (18/10/2021), sebanyak 91,3 persen analis masih merekomendasikan beli untuk saham emiten berkode SIDO ini.

Target harga dalam 12 bulan ke depan diperkirakan mencapai 937,02 per lembar sahamnya dari posisi harga terakhir 790 per lembar sahamnya. Dengan potensi return mencapai 18,6 persen dan LTM return 10,3 persen.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengungkapkan pabrik Tolak Angin ini memiliki keunggulan pada produk-produk jamu tradisionalnya yang diolah secara modern. Hal ini karena jamu-jamu tersebut yang digandrungi masyarakat ketika pandemi Covid-19 melanda.

"Saya pikir ini akibat pandemi cukup positif bagi SIDO, pendapatan dan laba bersih meningkat cukup tajam. Sedangkan, perusahaan farmasi bahan bakunya ada masalah, SIDO ini pakai produk bahan baku dalam negeri jadi lebih enak posisinya," urainya kepada Bisnis, Senin (18/10/2021)

Lebih lanjut, sentimen positif terhadap saham SIDO menurutnya masih belum berakhir, seiring pandemi Covid-19 yang belum berlalu sepenuhnya.

Adapun, tantangan besar di industri jamu dan farmasi ini pada aktivitas distribusi barang yang saat pandemi dapat terganggu, apalagi ada risiko gelombang ketiga Covid-19. Namun, pemanfaatan bahan baku dalam negeri akan membuat emiten farmasi relatif lebih aman dari tantangan fluktuasi akibat pandemi.

Tim Analis J.P Morgan yang dipimpin Benny Kurniawan melakukan survei pada September 2021 yang mendukung pandangan sementara pemulihan ekonomi sedang berlangsung, sekuritas harus selektif dalam ruang konsumen.

"Survei konsumen perdana kami menegaskan preferensi kami untuk tetap selektif pada nama konsumen indonesia Kami percaya pemimpin pasar seperti ICBP dan SIDO diposisikan lebih baik di lingkungan konsumen yang lemah saat ini sebagai 55 persen responden kami melihat penghematan yang lebih rendah selama Covid-19 dan mereka berencana untuk menunda pembelian besar," ungkapnya dalam riset.

Di sisi lain, responden optimis dengan pendapatan masa depan tingkat dan berharap untuk kembali ke belanja besar setelah ekonomi dibuka kembali. Ini seharusnya menjadi pertanda baik terutama untuk MAPI.

Dislokasi tenaga kerja akan memiliki dampak negatif terhadap daya beli dalam beberapa kuartal ke depan, karena masyarakat yang hanya mengandalkan bantuan fiskal tidak akan cukup untuk menjembatani kesenjangan dan anggaran pemerintah pada tahun penuh 2022 cukup konservatif.

"Kami lebih memilih perusahaan yang (1) pemimpin pasar dalam kategori usaha seperti ICBP produsen mie instan, SIDO produsen jamu dan emiten mengambil posisi dalam segmen premium seperti ACES dan MAPI," urainya.

Pemimpin pasar dalam kebutuhan pokok konsumen akan dapat meneruskan kenaikan biaya dengan lebih mudah dan konsumen cenderung kembali ke apa yang mereka ketahui dan kurang eksperimental selama masa-masa sulit.

SIDO mendapatkan rating overweight dari J.P Morgan dengan target harga 1010.

Adapun, Hans memberikan rekomendasi beli terhadap saham SIDO. Dia menilai harganya masih sedikit lebih murah berdasarkan price to equity ratio (PER).

"Kami lihat tidak ada kabar mengagetkan yang berarti, pandemi 2020, earning per share turun, 2021 sudah recovery, masih agak jauh dari 2019 dan 2018 EPS-nya," urainya.

Hans menilai kenaikan harga saham SIDO masih mungkin terjadi dengan potensi kenaikan 10--15 persen. Dia menegaskan ada potensi kenaikan terbatas dari posisi PER saat ini..

Sementara itu, Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai saham SIDO secara teknikal berada dalam fase sideways di area 755--805. Kendati demikian, dia tetap merekomendasikan beli terhadap saham SIDO.

"Rekomendasi buy, tapi sideways ini masih panjang, target price [TP] setelah 805 pada 860 dan 900," katanya.

Hingga penutupan perdagangan hari ini, Senin (18/10/2021), harga saham SIDO menguat 2,58 persen atau 20 poin ke level 795. Adapun, kapitalisasi pasarnya juga meningkat menjadi Rp24,03 triliun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham Kinerja Emiten sido muncul
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top