Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Trimegah AM Optimistis IHSG Tembus 6.800 Akhir 2021

Saham-saham yang masuk kategori new economy akan mengubah konstelasi IHSG dalam beberapa tahun ke depan.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 11 September 2021  |  09:37 WIB
Trimegah AM Optimistis IHSG Tembus 6.800 Akhir 2021
Pengunjung menggunakan ponsel di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di BEI, Jakarta, Selasa (11/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Trimegah Asset Management memasang target tinggi bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga ke level 6.800 pada akhir tahun ini. 

Direktur Utama Trimegah Asset Management Antony Dirga mengatakan IHSG berpotensi melaju hingga level 6.800. Pasalnya, saat ini saham-saham bervaluasi besar cenderung masih terdiskon.

“Kami di Trimegah Asset memiliki pandangan yang cukup konstruktif untuk IHSG di akhir tahun, yaitu level 6.700-6.800. Konsisten dengan ini, kami merekomendasikan nasabah-nasabah kami untuk build position di reksa dana dengan strategi yang lebih agresif seperti reksa dana saham atau campuran,” katanya kepada Bisnis dikutip Sabtu (11/9/2021).

Antony menambahkan saham-saham yang masuk kategori new economy akan mengubah konstelasi IHSG dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, Trimegah AM juga melihat saham-saham big caps juga mulai memiliki valuasi yang menarik.

Maka itu, dia berpendapat reksa dana yang dapat dipertimbangkan adalah TRAM Consumption Plus atau reksa dana saham dengan fokus new economy TRIM Kapital Plus. Reksa dana campuran yang dapat dipertimbangkan adalah Trimegah Balanced Absolute Strategy. “Tentunya disesuaikan dengan profil resiko masing-masing investor,” imbuhnya.

Sebelumnya, Antony mengatakan reksa dana obligasi memiliki sentimentnegatif berupa pemotongan PPh menjadi 10 persen oleh pemerintah.

“Menurut kami, hilangnya tax break ini sebenarnya sehat untuk industri reksa dana dalam jangka panjang. Namun dalam jangka pendek hilangnya tax break ini akan menyebabkan reksa dana obligasi kehilangan competitive advantage-nya,” ungkapnya.

Menurutnya relaksasi PPh bunga obligasi dari 15 persen menjadi 10 persen tersebut dapat mengakibatkan penarikan yang besar dari reksadana obligasi dan menyebabkan turunnya dana kelolaan reksa dana di Tanah Air.

Jika diurutkan, ungkap Antony salah satu dampak terbesar relaksasi PPh tersebut ke pasar obligasi adalah perpindahan tangan pemilik obligasi dari perbankan dan reksadana ke investor ritel ataupun institusi lainnya.

Besar kemungkinan lanjut Antony, dalam jangka pendek net additional demand yang real sebenarnya terbatas. Di mana investor mengalihkan uang yang sebelumnya diperuntukkan untuk konsumsi atau kebutuhan lainnya menjadi investasi obligasi akibat adanya relaksasi ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG pt trimegah asset management big caps
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top