Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: 44 Tahun Bursa Efek hingga Blok Rokan

Deretan prestasi dan pekerjaan rumah Bursa Efek Indonesia pada usianya yang 44 tahun menjadi salah satu berita pilihan editor Bisnisindonesia.id hari ini.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 10 Agustus 2021  |  12:51 WIB
Karyawan beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawan beraktivitas di depan layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dibereskan oleh Bursa Efek Indonesia setelah memasuki usia 44 tahun. Meskipun demikian, tidak sedikit pula prestasi yang telah berhasil ditorehkan selama perjalanan bersejarahnya memajukan ekonomi Indonesia.

Kabar tentang prestasi dan pekerjaan rumah BEI pada usianya yang ke-44 menjadi salah satu berita pilihan editor Bisnisindonesia.id. Selain berita bursa, beragam kabar ekonomi dan bisnis yang dikemas secara mendalam dan analitik juga tersaji di meja redaksi Bisnisindonesia.id.

Berikut ini intisari dari setiap berita pilihan:

  1. DANA, Sinarmas, & Lahirnya Hegemoni 3 Goliat E-wallet

Campur tangan grup konglomerasi Sinarmas dalam proses akuisisi DANA dinilai akan mengakibatkan pasar dompet digital di Indonesia makin dicengkeram oleh hanya tiga pemain besar, tanpa menyisakan ruang gerak bagi peserta baru.

Untuk diketahui, Sinarmas Group disebut tengah dalam pembicaraan dengan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. alias Emtek untuk mengakuisisi DANA. Perusahaan berkode saham EMTK itu memiliki 49% persen saham di PT Elang Andalan Nusantara (EAN), yang sepenuhnya memiliki PT Espay Debit Indonesia Koe (DANA).

Akuisisi DANA oleh Sinarmas akan berujung pada mengerucutnya kompetisi dompet digital pada The Big 3, yaitu; Gopay, Shopeepay, serta entitas merger Ovo dan DANA. 

Dampaknya, pemain lainnya perlu melakukan inovasi berbeda untuk bisa bersaing melawan The Big 3 ke depannya.

Baca selengkapnya: https://bisnisindonesia.id/article/dana-sinarmas-lahirnya-hegemoni-3-goliat-ewallet

  1. 44 Tahun Pasar Modal Indonesia: Ribuan PR dan Sejuta Prestasi

Kedalaman, transparasi, dan integritas pasar modal serta menambah jumlah investor dan emiten agar lebih beragam, menjadi PR BEI. Tantangan lainnya adalah mencari pertumbuhan baru dari sisi demografis dan ekuitas.

Direksi BEI menyatakan bursa siap menyambut pelaku ekonomi baru, misalnya unikorn, perusahaan teknologi, aplikasi, infrastruktur data, kesehatan, juga perusahaan yang fokus pada sustainable development goals.

Hingga 9 Agustus 2021, sudah ada 740 perusahaan tercatat dengan total kapitalisasi pasar mencapai Rp7.481 triliun. Selain itu, pertumbuhan jumlah investor hingga akhir Juli sudah mencapai 50% menjadi 5,28 juta single investor identification (SID). Menariknya, peningkatan jumlah investor itu didominasi milenial dan generasi Z dengan jumlah mencapai 58,39%.

Kalangan manajer investasi menilai teknologi akan menjadi tantangan pasar modal ke depan, baik itu pemanfaatannya maupun dalam mengakomodasi kedatangan berbagai emiten sektor teknologi baru.

Baca selengkapnya: https://bisnisindonesia.id/article/44-tahun-pasar-modal-indonesia-ribuan-pr-dan-sejuta-prestasi

  1. Di Tengah Covid, Pengembang Kawasan Industri Bersiap Bangkit

Sejumlah developer kawasan industri tetap melakukan ekspansi lahan kendati kinerja penjualan lahan di kawasan industri masih tersendat hingga akhir kuartal II/2021 akibat terhantam pandemi Covid-19.

Konsultan properti Colliers Indonesia menyebutkan ekspansi bahkan mencapai Sukabumi, Jawa Barat, sebagai persiapan ketika badai pandemi dapat diatasi.

Colliers mengidentifikasi satu-satunya kawasan yang menjual lahan industri di Bogor adalah Kawasan Industri Sentul, tetapi tengah kekurangan lahan untuk ekspansi. Mereka saat ini berkembang lebih jauh ke selatan ke Kabupaten Sukabumi, mengembangkan sekitar 223 hektare di Cikembar.

Sukabumi dianggap sebagai lokasi industri berikutnya di Jabodetabek bagian selatan, terutama dengan kemajuan infrastruktur transportasi. Colliers mengidentifikasi satu perusahaan lainnya berencana membuka kawasan industri di wilayah tersebut.

Baca selengkapnya: https://bisnisindonesia.id/article/di-tengah-covid-pengembang-kawasan-industri-bersiap-bangkit

Foto aerial kawasan industri Jababeka di Cikarang, Jawa Barat./Bisnis-Himawan L Nugraha

  1. Gotong-royong Membesarkan Blok Rokan di Pangkuan Ibu Pertiwi

Pengelolaan Blok Rokan akhirnya kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi, setelah hampir seabad lamanya ladang minyak di Provinsi Riau itu dikelola oleh perusahaan minyak Amerika Serikat PT Chevron Pacific Indonesia.

Dengan dikelola perusahaan migas nasional PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), diharapkan dapat memberikan kontribusi dan multiplier effect bagi perekonomian nasional, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, maupun peningkatan kesejahteraan rakyat.

Apalagi, alih kelola ladang minyak terbesar di Indonesia tersebut telah melewati proses panjang dan berkat kerja sama dari berbagai pihak.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat pada akhir Juli 2021, rata-rata produksi Blok Rokan sekitar 160,5 ribu barel minyak per hari untuk minyak bumi dan 41 juta kaki kubik per hari (MMscfd) untuk gas bumi.

Baca selengkapnya: https://bisnisindonesia.id/article/gotong-royong-membesarkan-blok-rokan-di-pangkuan-ibu-pertiwi

  1. Reksa Dana Pendapatan Tetap Masih Jawara

Kinerja unggul produk reksa dana pendapatan tetap pada Juli 2021 diperkirakan masih akan berlanjut, setidaknya bulan ini, diwarnai sentimen positif yang menopang pergerakan pasar surat utang saat ini.

Berdasarkan data Infovesta Utama, produk reksa dana pendapatan tetap mencatatkan kinerja terbaik di antara produk reksa dana lainnya, baik secara tahun berjalan hingga 30 Juli 2021 maupun secara bulanan.

Indeks Infovesta Corporate Bond mencatatkan kinerja terbaik dalam tahun berjalan (year-to-date/YtD) hingga akhir Juli 2021, yaitu naik sebanyak 3,2% YtD. Sementara di bawahnya, indeks Infovesta Government Bond tumbuh sebesar 2,3% YtD, diikuti oleh kinerja indeks Infovesta 90 Fixed Income Fund yang tumbuh 1,91% YtD.

Adapun, secara bulanan atau month-to-month (MoM), indeks Infovesta 90 Fixed Income Fund memimpin dengan pertumbuhan 1,27% pada 30 Juli 2021. Lalu, indeks Infovesta Government Bond tumbuh 1,13%, dan indeks Infovesta Corporate Bond naik sebesar 0,51%.

Pertumbuhan reksa dana pendapatan tetap yang tinggi tersebut didorong oleh kepercayaan investor terhadap obligasi negara yang bangkit kembali setelah pasar dibayangi kekhawatiran kenaikan suku bunga di Amerika Serikat pada semester I/2021.

Baca selengkapnya:https://bisnisindonesia.id/article/reksa-dana-pendapatan-tetap-masih-jawara

Selamat membaca!

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia kawasan industri reksa dana dompet digital Blok Rokan
Editor : Sri Mas Sari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top