Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Covid-19 Varian Delta Makin Ganas, Wall Street Dibuka Melemah

Indeks S&P 500 akhirnya turun lebih dari 1 persen setelah mencapai level penutupan tertinggi sepanjang masa dalam delapan dari sembilan sesi perdagangan terakhir.
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS./ Michael Nagle - Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS./ Michael Nagle - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks utama di bursa saham Amerika Serikat (AS) kompak dibuka pada zona merah, mulai turun dari rekor tertingginya di tengah meningkatnya kecemasan pelaku pasar terhadap penyebaran Covid-19 varian delta.

Berdasarkan data Bloomberg, Kamis (8/7/2021), Dow Jones Industrial Average dibuka melemah 1,10 persen ke level 34.300,95, S&P 500 tergelincir 1,27 persen ke posisi 4.302,65, dan Nasdaq turun 1,58 persen ke level 14.432,70.  

S&P 500 akhirnya turun lebih dari 1 persen setelah mencapai level penutupan tertinggi sepanjang masa dalam delapan dari sembilan sesi perdagangan terakhir. Pelemahan juga dialami indeks saham acuan di Eropa dan Asia.

Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 30-tahun turun di bawah 1,90 persen untuk pertama kalinya sejak Februari karena ekspektasi inflasi mereda.

Pelaku pasar sedang gelisah mengenai penyebaran cepat dari varian delta yang berpotensi memukul kembali pertumbuhan ekonomi dan prospek normalisasi bank sentral.

"Banyak saham yang lebih maju, terutama di sektor energi dan keuangan. Investor harus berhati-hati untuk memisahkan ekonomi dari pasar saham,” kata Chris Grisanti, Kepala Strategi Ekuitas MAI Capital Management.

Rencana stimulus bank sentral The Fed tetap penting untuk prospek pasar. Ketika pejabat The Fed mempertimbangkan jadwal untuk mengurangi US$120 miliar dalam pembelian obligasi bulanan, Bank Sentral Eropa siap untuk memperpanjang kebijakan moneter ultra-longgar.

Dalam kulminasi dari tinjauan 18 bulan yang diterbitkan Kamis (8/7/2021), pembuat kebijakan ECB menaikkan target inflasi mereka menjadi 2 persen.

Pesan yang dikirim pasar adalah bahwa situasi ekonomi tidak cukup kuat untuk menarik kembali stimulus dan memulai proses pengurangan, seperti yang telah diisyaratkan Fed," kata Ricardo Gil, Kepala Alokasi Aset Trea Asset Management di Madrid.

Pada pasar komoditas, harga minyak turun karena investor menunggu sinyal lebih lanjut dari aliansi OPEC+ mengenai rencana produksi. Sementara itu, jumlah kematian global pandemi telah melampaui 4 juta ketika varian delta menyebar, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak agar pembukaan kembali ekonomi di seluruh dunia dilakukan dengan hati-hati.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper