Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tertekan Yield Treasury AS dan Ekspektasi Inflasi, Dolar AS Melemah

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya merosot 0,21 persen pada 89,946.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 Juni 2021  |  07:07 WIB
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Dolar Amerika Serikat tergelincir pada akhir perdagangan Senin (7/6/2021), tertekan imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang tetap lemah di tengah penguatan euro dan pounds Inggris ketika para investor menantikan pertemuan bank sentral Eropa dan Amerika Serikat.

Data pekerjaan AS pada Jumat (4/6) telah memberikan tekanan pada dolar, karena investor bertaruh bahwa pertumbuhan pekerjaan tidak cukup kuat untuk meningkatkan ekspektasi Federal Reserve AS memperketat kebijakan moneternya.

Langkah itu berlanjut pada Senin (7/6), dengan imbal hasil obligasi pemerintah bertahan lemah, setelah penurunan pada Jumat (4/6), mengurangi permintaan untuk mata uang AS.

“Imbal hasil obligasi pemerintah sedikit lebih tinggi pada sesi ini, meskipun tetap jauh di bawah level yang terlihat sebelum laporan ketenagakerjaan. Ini kemungkinan pendorong pelemahan dolar AS pada Senin (7/6),” kata Direktur Pelaksana analisis mata uang global Action Economics Ronald Simpson.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya merosot 0,21 persen pada 89,946, sementara euro menguat 0,23 persen menjadi 1,2194 dolar AS. Dolar AS juga jatuh 0,23 persen menjadi 109,26 yen Jepang.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS 10 tahun yang dijadikan acuan terakhir di 1,569 persen. Imbal  hasil turun menjadi 1,560 persen dari 1,628 persen pada Jumat (4/6).

“Pada titik ini sepertinya pasar benar-benar ingin mendapatkan posisi short dolar. Bagi kami itu menunjukkan ada risiko mengejar langkah ini. Ini adalah posisi yang ramai. Anda sudah mendapatkan bagian pasar yang cukup besar yang merupakan net short dolar AS, jadi jika kita merasa perlu mengguncang posisi tersebut,” kata Kepala Strategi Valas Amerika Utara CIBC Capital Markets kata Bipan Rai.

Sementara Rai mengatakan ada beberapa risiko dolar akan reli, dia mencatat bahwa investor sedang menunggu pertemuan Federal Reserve minggu depan.

Pelaku pasar juga akan melihat data inflasi AS dan pertemuan Bank Sentral Eropa, keduanya pada Kamis (10/6).

Retorika dovish dari pembuat kebijakan ECB menunjukkan bank tidak terburu-buru untuk memperlambat laju pembelian di bawah Program Pembelian Darurat Pandemi (PEPP) 1,85 triliun euro (2,24 triliun dolar AS).

Spekulan menurunkan posisi net short dolar mereka di minggu terakhir, menurut perhitungan Reuters dan data Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS yang dirilis pada Jumat (4/6).

Investor mata uang tampaknya mengabaikan berita bahwa Amerika Serikat, Inggris dan negara-negara kaya lainnya mencapai kesepakatan pada Sabtu (5/6) untuk memeras lebih banyak uang dari perusahaan multinasional, seperti Amazon dan Google, dan mengurangi insentif mereka untuk mengalihkan keuntungan ke surga pajak rendah di luar negeri.

“Diperkirakan mereka akan mencapai semacam kesepakatan,” kata Rai dari CIBC, tetapi dia mengatakan investor kemungkinan akan berhati-hati dalam bertaruh karena “Jalannya panjang dan memiliki banyak risiko.”


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as ekonomi as greenback

Sumber : Antara

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top